Dua bab sebelumnya membahas praktik menulis dan memverifikasi naskah hadits. Bab ini membahas topik yang berkaitan erat: bagaimana seorang rawi seharusnya memilih kata untuk menyampaikan riwayatnya - karena ternyata tidak semua lafaz periwayatan setara kekuatannya.
Kenapa Pilihan Kata Ini Penting
Sudah berulang kali disinggung di bab-bab sebelumnya - terutama saat membahas thuruq at-tahammul - bahwa lafaz yang dipakai seorang rawi untuk menyampaikan riwayatnya (disebut shighah al-ada') bukan sekadar variasi bahasa, tapi jejak informasi tentang cara ia benar-benar menerima riwayat itu.1 As-Sakhawi menyusun lafaz-lafaz ini dalam sebuah tingkatan, dari yang paling tegas menunjukkan penerimaan langsung sampai yang paling ambigu.
Tingkatan Lafaz Periwayatan
Alfiyah al-'Iraqi membuka pembahasan cara-cara penerimaan riwayat (tepatnya di bab as-sama', karena mendengar langsung dari lafaz syaikh adalah cara tahammul pertama dari delapan yang ada) dengan menyusun lafaz-lafaz ini secara berurutan dari yang paling tinggi:
كِتَابًا أَوْ حِفْظًا وَقُلْ حَدَّثَنَا ... سَمِعْتُ أَوْ أَخْبَرَنَا أَنْبَأَنَا
وَقَدَّمَ الْخَطِيبُ أَنْ يَقُولَا ... سَمِعْتُ إِذْ لَا يَقْبَلُ التَّأْوِيل
"Cara penerimaan riwayat yang paling tinggi menurut mayoritas ulama ada delapan; (yang pertama adalah) lafaz (langsung dari seorang) syaikh - ketahuilah itu. Baik secara tertulis maupun hafalan, dan ucapkanlah 'haddatsana', 'sami'tu', atau 'akhbarana'/'anba'ana'. Al-Khathib (al-Baghdadi) mendahulukan (lafaz) 'sami'tu' (di atas semuanya), karena lafaz ini tidak menerima ta'wil (tidak bisa ditafsirkan makna lain)." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 364-366, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 2 hlm. 156)
Tingkat tertinggi dipegang oleh sami'tu (aku mendengar) dan haddatsana/haddatsani (menceritakan kepada kami/kepadaku) - lafaz yang paling eksplisit menyiratkan sama' langsung, sudah dibahas di bab tentang as-sama'. Di bawahnya ada akhbarana/akhbarani (mengkhabarkan kepada kami/kepadaku) - secara historis sebagian ulama generasi awal memakainya khusus untuk cara qira'ah 'alasy-syaikh, membedakannya dari haddatsana yang khusus sama', meski penggunaan ini tidak selalu konsisten - banyak muhaddits belakangan memakai keduanya secara bergantian tanpa membedakan cara tahammulnya.2
Lafaz anba'ana (melaporkan kepada kami) secara historis lebih sering dikaitkan dengan periwayatan lewat ijazah, meski beberapa ulama tetap memakainya untuk sama' langsung. Sementara lafaz qala (ia berkata) dipakai lebih longgar, bisa merujuk pada cara tahammul apa pun tanpa menegaskan salah satunya secara spesifik.
Di ujung tingkatan yang paling ambigu ada dua lafaz kembar: 'an (dari) dan anna (bahwa) - keduanya tidak secara eksplisit menyatakan bagaimana rawi menerima riwayatnya, dan karena itu keduanya menjadi sumber perdebatan tersendiri yang cukup penting untuk dibahas di bab khusus berikutnya.
Kenapa Ini Bukan Sekadar Formalitas Bahasa
Memahami tingkatan lafaz ini penting karena berkaitan langsung dengan tema yang sudah dibahas di bab tentang tadlis - seorang mudallis sengaja memilih lafaz ambigu seperti "'an" untuk menyamarkan keterputusan yang sebenarnya terjadi. Sebaliknya, seorang rawi yang jujur akan memilih lafaz yang benar-benar mencerminkan cara ia menerima riwayat itu, meski itu berarti memakai lafaz yang "kelihatannya" kurang meyakinkan (seperti anba'ana untuk sekadar ijazah) daripada memaksakan diri memakai haddatsana yang tidak sesuai kenyataan.
Bab selanjutnya membahas secara khusus dua lafaz paling ambigu di atas - 'an dan anna - beserta syarat yang harus dipenuhi supaya riwayat dengan lafaz itu tetap dianggap muttasil.
Catatan & Referensi
Konsep shighah al-ada' (lafaz-lafaz penyampaian riwayat) sebagai jejak cara tahammul dirumuskan Ibnu Shalah dalam Muqaddimah-nya dan dijelaskan panjang lebar As-Sakhawi dalam Fathul Mughits.
↩Perbedaan historis penggunaan haddatsana untuk sama' dan akhbarana untuk qira'ah, beserta ketidakkonsistenan praktiknya di kalangan muhaddits belakangan, didokumentasikan Ibnu Shalah dan diulang As-Sakhawi dalam Fathul Mughits.
↩