Fathul Mughits Bab 19: Al-Mudraj

Bab sebelumnya membahas al-mudhtarib - kontradiksi terang-terangan antar versi riwayat. Bab ini membahas cacat yang sifatnya justru tersembunyi: sesuatu yang menyusup masuk ke dalam teks tanpa terlihat sebagai tambahan.

Al-Mudraj

الْمُدْرَجُ: الْمُلْحَقُ آخِرَ الْخَبَرْ ... مِنْ قَوْلِ رَاوٍ مَا بَلَا فَصْلٍ ظَهَرْ
نَحْوُ " إِذَا قُلْتَ التَّشَهُّدُ " وَصَلْ ... ذَاكَ زُهَيْرٌ وَابْنُ ثَوْبَانَ فَصَلْ
"Al-mudraj adalah [perkataan] yang disambungkan di akhir khabar (hadits), dari perkataan seorang rawi, tanpa pemisah yang tampak jelas - seperti ucapan 'apabila engkau membaca tasyahhud' yang tersambung begitu saja, padahal Zuhair dan Ibnu Tsauban-lah yang memisahkannya (dari sabda Nabi)." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 213-214, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 1 hlm. 296)
وَيَقَعُ فِي السَّنَدِ وَالْمَتْنِ، وَلِكُلٍّ مِنْهَا أَقْسَامٌ، اقْتَصَرَ ابْنُ الصَّلَاحِ فِي الْمَتْنِ عَلَى أَحَدِهَا، هُوَ الْقَوْلُ (الْمُلْحَقُ آخِرَ الْخَبَرْ) الْمَرْفُوعِ (مِنْ قَوْلِ رَاوٍ مَا) مِنْ رُوَاتِهِ، إِمَّا الصَّحَابِيُّ أَوِ التَّابِعِيُّ أَوْ مَنْ بَعْدَهُ (بِلَا فَصْلٍ ظَهَرْ) بَيْنَ هَذَا الْمُلْحَقِ بِعَزْوِهِ لِقَائِلِهِ، وَبَيْنَ كَلَامِ النُّبُوَّةِ؛ بِحَيْثُ يُتَوَهَّمُ أَنَّ الْجَمِيعَ مَرْفُوعٌ
"Idraj terjadi baik pada sanad maupun matan, dan masing-masing punya beberapa jenis - Ibnu Shalah sendiri, dalam pembahasan matan, hanya membatasi pada satu jenis: perkataan yang disambungkan di akhir khabar marfu', dari perkataan salah seorang rawinya - baik sahabat, tabi'in, maupun generasi sesudahnya - tanpa pemisah yang tampak jelas antara sambungan itu (yang sebenarnya perkataan si rawi) dengan sabda kenabian, sehingga orang mengira seluruhnya adalah sabda Nabi." (As-Sakhawi, Fathul Mughits, jilid 1 hlm. 297, syarah atas bait Alfiyah al-'Iraqi di atas)

Al-mudraj (idraj) adalah masuknya kata atau kalimat tambahan ke dalam matan atau sanad sebuah hadits, yang sebenarnya bukan bagian dari riwayat aslinya - paling sering berupa komentar penjelas dari seorang rawi yang tergabung tanpa pemisah yang jelas, sehingga terkesan sebagai bagian dari sabda Nabi sendiri.1 Idraj bisa terjadi di awal matan, di tengah, atau di akhir - dan mendeteksinya membutuhkan perbandingan dengan jalur-jalur lain yang meriwayatkan matan yang sama tanpa tambahan itu.

Idraj berbeda dari pemalsuan (al-maudhu', dibahas di bab berikutnya) karena biasanya tidak disengaja - seorang rawi menjelaskan sesuatu untuk memperjelas konteks, tapi penjelasan itu kemudian tercampur dengan teks asli oleh perawi-perawi berikutnya yang tidak memisahkannya dengan tegas.

Bab selanjutnya membahas cacat paling berat dalam seluruh ilmu ini - bukan lagi soal kelemahan teknis sanad, tapi soal riwayat yang sama sekali bukan sabda Nabi: al-maudhu'.

Catatan & Referensi

  1. Definisi al-mudraj beserta tiga posisinya (awal, tengah, akhir matan) dirumuskan Ibnu Shalah dalam Muqaddimah-nya dan dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email