Bab sebelumnya membahas asy-syadz - penyelisihan dari rawi yang tsiqah. Bab ini membahas kembarannya yang sekilas mirip, tapi datang dari rawi dengan status berbeda.
Al-Munkar
Alfiyah al-'Iraqi mendefinisikan al-munkar dalam dua bait berikut:
إِجْرَاءُ تَفْصِيلٍ لَدَى الشُّذُوذِ مَرْ ... فَهْوَ بِمَعْنَاهُ كَذَا الشَّيْخُ ذَكَر
"Al-munkar adalah al-fard (riwayat yang menyendiri) - demikian pula Al-Bardiji menyebutkannya secara mutlak. Namun yang benar dalam mentakhrijnya adalah menerapkan perincian yang sama seperti pada asy-syadz yang telah lewat dibahas - sehingga maknanya sama dengan syadz, demikian pula Ibnu Shalah menyebutkannya." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 167-168, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 1 hlm. 249)
As-Sakhawi lalu menjelaskan makna al-fard (menyendiri) di sini dalam prosa syarahnya:
Al-munkar mirip dengan syadz dalam hal ada penyelisihan terhadap riwayat yang lebih kuat, tapi bedanya krusial: rawi yang menyelisihi di sini adalah rawi yang lemah (dhaif), bukan rawi tsiqah.1 Jadi rumus sederhananya:
- Rawi tsiqah menyelisihi yang lebih kuat → asy-syadz
- Rawi dhaif menyelisihi yang lebih kuat → al-munkar
Perbedaan ini sering luput dipahami karena keduanya sama-sama "riwayat yang menyelisihi" - tapi status kredibilitas rawi yang membuat penyelisihan itu terjadi menentukan istilah mana yang tepat dipakai, dan itu berpengaruh pada seberapa berat cacatnya. Riwayat munkar umumnya dianggap lebih berat cacatnya dibanding syadz, karena rawi yang menyelisihi sudah bermasalah kredibilitasnya sejak awal, bukan sekadar kebetulan berbeda dari mayoritas.
Bab selanjutnya membahas metodologi yang dipakai untuk mendeteksi syadz dan munkar di atas, sekaligus dua jenis penguat riwayat yang lahir darinya: al-i'tibar, al-muttaba'at, dan asy-syawahid.
Catatan & Referensi
Perbedaan al-munkar dari asy-syadz - terletak pada status kredibilitas rawi yang menyelisihi (dhaif vs tsiqah) - ditegaskan Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam Nukhbatul Fikar dan dijelaskan lebih rinci As-Sakhawi.
↩