Arbain Nawawi 19: Jagalah Allah, Niscaya Allah Menjagamu

يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
"Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya selalu di hadapanmu. Apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah. Dan apabila kamu memohon pertolongan, memohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena (pencatat takdir) telah diangkat, dan lembaran-lembarannya telah kering." (HR. Tirmidzi, hasan shahih, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, sebagaimana dicantumkan Imam An-Nawawi dalam Al-Arbain An-Nawawiyah, hadits kesembilan belas)1

Hadits kesembilan belas Arbain Nawawi ini diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma sendiri, yang menceritakan bahwa ia pernah dibonceng Nabi shallallahu 'alaihi wasallam - saat itu ia masih remaja - dan di perjalanan itulah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menyampaikan wasiat yang berisi lima kalimat pendek, mencakup hubungan seorang hamba dengan Allah, adab meminta dan memohon pertolongan, hingga pemahaman tentang takdir.

Pertama: Redaksi Hadits dari Data Primer Sendiri

Dibandingkan dengan data hadits yang sudah diverifikasi di Ngaji Sanad, matan yang dicantumkan Imam An-Nawawi di atas cocok kata demi kata, tanpa satu klausa pun yang hilang, dengan riwayat berikut:

كُنْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ: يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ ...
"Aku pernah berada di belakang (dibonceng) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari, lalu beliau bersabda: 'Wahai anak muda, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat...'" (HR. Tirmidzi, Kitab Sifat Hari Kiamat, Ar-Riqaq, dan Al-Wara', no. 2516, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi sendiri)2

Perlu dicatat: kolom terjemahan Indonesia untuk entri ini kosong pada data hadits primer Ngaji Sanad, sehingga terjemahan pada kutipan di atas dan pada blockquote pembuka artikel ini disusun mandiri dari teks Arabnya, dengan tetap merujuk redaksi Arab yang sudah tercatat dalam data primer sendiri sebagai sumber utama.

Kedua: "Jagalah Allah, Niscaya Dia Menjagamu"

Kalimat pembuka, ihfazhillaha yahfazhka, mengandung kaidah timbal balik: seorang hamba yang menjaga batasan-batasan Allah - menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui hukum-hukum-Nya - akan dijaga Allah, baik dalam urusan agamanya (dijaga dari penyimpangan dan fitnah) maupun urusan dunianya (dijaga dari bahaya, dijaga keluarganya, dijaga hartanya). Menjaga hak-hak Allah di sini mencakup menjaga shalat pada waktunya, menjaga kesucian diri dari yang haram, menjaga anggota badan dari maksiat, dan menjaga hati dari penyakit-penyakit seperti dengki dan sombong.

Kalimat kedua, ihfazhillaha tajidhu tujaahaka ("jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu"), menjelaskan konsekuensi lain: seorang hamba yang senantiasa menjaga hubungannya dengan Allah di masa lapang akan merasakan kedekatan dan pertolongan-Nya justru ketika ia berada dalam kesempitan dan kesulitan - sebuah prinsip yang juga disebutkan dalam riwayat tambahan hadits ini, "kenalilah Allah di kala lapang, niscaya Dia akan mengenalimu di kala sempit."3

Ketiga: Kepada Siapa Meminta dan Memohon Pertolongan

Dua kalimat berikutnya, idzaa sa'alta fas'alillah ("apabila kamu meminta, mintalah kepada Allah") dan idzastaunta fastain billah ("apabila kamu memohon pertolongan, memohonlah pertolongan kepada Allah"), menegaskan prinsip tauhid dalam permintaan dan permohonan pertolongan - inti dari ayat yang setiap muslim baca berulang kali dalam shalat, "iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin" (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan). Ini bukan berarti seorang muslim dilarang meminta bantuan kepada sesama manusia dalam perkara-perkara yang memang lazim diusahakan lewat perantaraan manusia - meminta pertolongan tukang, berobat kepada dokter, dan sejenisnya tetap dibolehkan. Yang ditekankan di sini adalah bahwa hati tidak boleh bergantung sepenuhnya kepada makhluk, dan permintaan yang sifatnya di luar kemampuan makhluk - hidayah, ampunan, kesembuhan hakiki, keselamatan dunia akhirat - hanya pantas dipanjatkan kepada Allah semata. Sejumlah kitab syarah klasik menjelaskan sisi lain dari kaidah ini: manusia pada dasarnya tetap saling membutuhkan satu sama lain dalam urusan dunia, sehingga yang dicela bukan meminta bantuan yang lazim kepada sesama, melainkan sikap hati yang menyandarkan diri sepenuhnya kepada makhluk seakan-akan makhluk itu punya kendali mutlak - sebuah keseimbangan antara berikhtiar secara wajar dan tetap menyandarkan hasil akhirnya hanya kepada Allah.

Keempat: Takdir yang Sudah Tercatat dan Kering Tintanya

Bagian penutup hadits ini berbicara tentang kepastian takdir: bahwa manfaat dan mudarat yang menimpa seseorang, sekalipun seluruh manusia berusaha memberi atau mencegahnya, tidak akan terjadi kecuali sesuai dengan apa yang sudah Allah tetapkan. Frasa rufi'atil aqlaam wa jaffatish-shuhuf ("pena-pena telah diangkat, dan lembaran-lembarannya telah kering") menggambarkan bahwa catatan takdir setiap makhluk sudah selesai ditulis - sebuah pengingat yang menenangkan hati dari kecemasan berlebihan terhadap rezeki, sekaligus mendorong seseorang untuk tetap berusaha secara syar'i tanpa bergantung berlebihan kepada makhluk yang sama-sama tidak berdaya di hadapan ketetapan Allah.

Pemahaman yang benar tentang takdir ini bukan alasan untuk bermalas-malasan atau meninggalkan usaha, karena usaha itu sendiri sudah termasuk bagian dari apa yang sudah ditetapkan Allah bagi hamba-Nya. Justru sebaliknya, keyakinan ini membebaskan hati dari kekhawatiran berlebihan dan ketergantungan kepada manusia, sekaligus menumbuhkan ketenangan menghadapi apa pun yang terjadi - sebagaimana disebutkan pula dalam riwayat tambahan hadits ini bahwa "kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesempitan, dan bersama kesulitan ada kemudahan."4

Kelima: Kenapa Wasiat Ini Disampaikan kepada Ibnu Abbas

Konteks penyampaian hadits ini layak diperhatikan: Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, sepupu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, masih berusia remaja ketika dibonceng dan diajarkan wasiat ini. Sepanjang hidupnya kemudian, ia dikenal luas sebagai salah satu sahabat paling menonjol keilmuannya - dijuluki "turjumanul Qur'an" (penerjemah/penafsir Al-Qur'an) karena kedalaman pemahamannya terhadap Kitabullah, buah dari doa khusus Nabi shallallahu 'alaihi wasallam baginya agar dikaruniai pemahaman mendalam tentang agama. Bahwa wasiat sepenting ini - mencakup tauhid dan pemahaman takdir sekaligus - disampaikan pada usia semuda itu menunjukkan bahwa pendidikan akidah semestinya ditanamkan sejak dini, bukan ditunda sampai usia dewasa, dan bahwa anak-anak mampu memahami serta membawa prinsip-prinsip besar ini sepanjang hidupnya, sebagaimana terbukti dari perjalanan keilmuan Ibnu Abbas sendiri.

Keenam: Wasiat Singkat, Prinsip yang Menyeluruh

Dalam satu kesempatan di perjalanan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan Ibnu Abbas - yang saat itu masih muda - lima kalimat yang mencakup dua fondasi besar akidah: tauhid (bergantung, meminta, dan memohon pertolongan hanya kepada Allah) dan iman kepada takdir (keyakinan bahwa manfaat dan mudarat sudah ditetapkan Allah). Sebagaimana ditegaskan sejak hadits keempat Arbain Nawawi tentang penciptaan manusia dan takdir, keyakinan akan qadar bukan penghalang bagi ikhtiar, melainkan penopang ketenangan jiwa seorang mukmin dalam menjalani usahanya.

Catatan & Referensi

  1. HR. Tirmidzi, hasan shahih, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma - matan sebagaimana dicantumkan Imam An-Nawawi dalam Al-Arbain An-Nawawiyah (dicek langsung ke naskah Arab di ar.wikisource.org), cocok kata demi kata dengan Jami' At-Tirmidzi no. 2516 - lihat catatan 2 di bawah.

  2. HR. Tirmidzi no. 2516 (Kitab Sifat Hari Kiamat, Ar-Riqaq, dan Al-Wara'), dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dinilai hasan shahih oleh Imam At-Tirmidzi sendiri di akhir riwayat - teks Arab dikutip dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri (hadith-api/books/tirmidzi.json); kolom terjemahan Indonesia pada entri ini kosong di data primer, sehingga terjemahan di badan artikel disusun mandiri dari teks Arabnya. Lihat teks Arab lengkap di halaman hadits ini.

  3. Tambahan kalimat "kenalilah Allah di kala lapang, niscaya Dia akan mengenalimu di kala sempit" dan "bersama kesulitan ada kemudahan" adalah bagian dari riwayat lain hadits ini (di luar riwayat Tirmidzi yang dikutip Imam An-Nawawi sebagai matan pokok, sering dirujuk sejumlah kitab syarah klasik sebagai berasal dari Musnad Ahmad dan Al-Mustadrak Al-Hakim) - teks Arabnya dicek langsung ke naskah Arab di ar.wikisource.org (sumber Arab primer), namun BELUM bisa diverifikasi silang ke data hadits primer Ngaji Sanad sendiri, karena narasi tambahan ini kemungkinan berada di luar cakupan 1.374 hadits pertama Musnad Ahmad yang sudah dikurasi di situs ini. Dicantumkan dengan hedge ini secara sengaja, bukan diklaim terverifikasi penuh dari data primer sendiri seperti matan pokok di atas.

  4. Tambahan kalimat "kenalilah Allah di kala lapang, niscaya Dia akan mengenalimu di kala sempit" dan "bersama kesulitan ada kemudahan" adalah bagian dari riwayat lain hadits ini (di luar riwayat Tirmidzi yang dikutip Imam An-Nawawi sebagai matan pokok, sering dirujuk sejumlah kitab syarah klasik sebagai berasal dari Musnad Ahmad dan Al-Mustadrak Al-Hakim) - teks Arabnya dicek langsung ke naskah Arab di ar.wikisource.org (sumber Arab primer), namun BELUM bisa diverifikasi silang ke data hadits primer Ngaji Sanad sendiri, karena narasi tambahan ini kemungkinan berada di luar cakupan 1.374 hadits pertama Musnad Ahmad yang sudah dikurasi di situs ini. Dicantumkan dengan hedge ini secara sengaja, bukan diklaim terverifikasi penuh dari data primer sendiri seperti matan pokok di atas.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email