Naw' kelima puluh delapan membahas nisbat (julukan asal-usul/profesi) yang tampilan luarnya (zahir) mengesankan sesuatu, padahal makna sebenarnya (batin) berbeda.
وَنَسَبُوا لِعَارِضٍ كَالْبَدْرِيِّ * نَزَلَ بَدْراً - عُقْبَةَ بْنِ عَمْرِو
"Mereka menisbatkan (seorang rawi) karena sesuatu yang kebetulan/insidental -seperti (julukan) 'Al-Badri' untuk 'Uqbah bin 'Amr, karena ia tinggal di (daerah) Badar (bukan karena ikut Perang Badar sebagaimana biasa dipahami)." Julukan "Al-Badri" biasanya dikaitkan dengan Sahabat yang ikut Perang Badar -tapi Al-'Iraqi mengingatkan ada kasus di mana julukan itu justru berasal dari tempat tinggal, bukan keikutsertaan dalam perang bersejarah itu.
Kasus Khalid Al-Hadzdza': Julukan dari Majelis, Bukan Profesi Sendiri
وَخَالِدٌ بِحَذَّاءٍ جَعَلْ مَجْلِسَ عَبْدِ اللَّهِ مَوْلَاهُ وُسِمْ جُلُوسَهُ
"Dan Khalid dijuluki dengan (sebutan) 'Al-Hadzdza'' (tukang sepatu) karena ia menjadikan majelis 'Abdullah, mantan budaknya (yang berprofesi tukang sepatu), sebagai tempat duduknya yang biasa." Ini contoh paling menarik dari naw' ini: Khalid bin Mihran Al-Hadzdza' dikenal luas dengan julukan "tukang sepatu", padahal Khalid SENDIRI bukan tukang sepatu -ia hanya sering duduk di majelis (toko/bengkel) seorang tukang sepatu bernama 'Abdullah. Julukan itu melekat pada Khalid karena ASOSIASI tempat, bukan karena profesinya sendiri.
Kesalahpahaman semacam ini -menyangka sebuah nisbat menggambarkan asal-usul atau profesi seseorang secara langsung, padahal sebenarnya berasal dari asosiasi tidak langsung- adalah jebakan umum bagi siapa pun yang membaca biografi rawi tanpa merujuk sumber yang menjelaskan latar belakang sebenarnya di balik sebuah julukan.
Catatan & Referensi
Bait naw' 58 (bait ke-945 s/d ke-947) ditranskripsi dari edisi tahqiq At-Tabshirah wat-Tadzkirah (Alfiyah al-'Iraqi), seri Mutun Thalib al-'Ilm, bagian "Al-Mansubun ila Khilaf azh-Zhahir".
↩