Naw' kelima puluh membahas Al-Asma' wal-Kuna -hubungan antara nama asli seorang rawi dan kunyahnya (sebutan "Abu Fulan"/"Ummu Fulanah").
وَاعْنَ بِ«الْأَسْمَا وَالْكُنَى»، وَقَدْ قَسَمْ * الشَّيْخُ ذَا لِتِسْعٍ أَوْ عَشْرِ قِسَمْ
"Perhatikanlah dengan 'Al-Asma' wal-Kuna' (nama dan kunyah), dan Asy-Syaikh (Ibnu Shalah) membaginya jadi sembilan atau sepuluh bagian." Klasifikasi sedetail ini menunjukkan betapa kompleksnya sistem penamaan Arab klasik -seorang rawi bisa dikenal lewat nama, kunyah, atau kombinasi keduanya, dan hubungan antara nama-kunyah itu sendiri punya banyak pola berbeda.
Nama Sama Persis dengan Kunyah
مَنِ اسْمُهُ كُنْيَتُهُ انْفِرَادَا * نَحْوُ أَبِي بِلَالٍ
"(Bagian pertama:) orang yang namanya sama persis dengan kunyahnya, tunggal; seperti Abu Bilal." Sebagian rawi memang punya nama asli yang berbentuk kunyah -bukan sekadar sebutan tambahan, tapi memang itulah nama resminya.
Dikenal Kunyahnya, Nama Aslinya Tidak Diketahui
وَالثَّانِ: مَنْ يُكْنَى وَلَا اسْماً نَدْرِي * نَحْوُ أَبِي شَيْبَةَ وَهْوَ الْخُدْرِي
"Bagian kedua: orang yang dikenal kunyahnya, tapi kita tidak tahu nama aslinya; seperti Abu Syaibah (dari keluarga) Al-Khudri." Ini pola menarik -sejumlah rawi begitu dikenal lewat kunyahnya sehingga nama asli mereka sendiri tercatat sebagai TIDAK diketahui pasti oleh ulama rijal, meski keberadaan dan riwayatnya sendiri tidak diragukan.
Al-'Iraqi melanjutkan dengan pola-pola lain: kunyah yang jadi gelar (Abu Asy-Syaikh Abu Muhammad), kunyah yang dipakai berulang oleh beberapa rawi berbeda (seperti Abu Al-Walid yang dipakai Ibnu Juraij dan lainnya), sampai rawi yang punya kunyah TAPI diperselisihkan ulama apa nama aslinya. Sistem klasifikasi ini jadi alat bantu penting bagi peneliti sanad untuk tidak salah mengidentifikasi rawi hanya berdasarkan kunyah yang disebut dalam sebuah riwayat.
Catatan & Referensi
Bait naw' 50 (bait ke-864 s/d ke-871) ditranskripsi dari edisi tahqiq At-Tabshirah wat-Tadzkirah (Alfiyah al-'Iraqi), seri Mutun Thalib al-'Ilm, bagian "Al-Asma' wal-Kuna".
↩