Naw' ketiga puluh sembilan membahas Ma'rifat Ash-Shahabah -ilmu mengenal para Sahabat Nabi, generasi pertama yang jadi mata rantai paling awal dalam setiap sanad hadits.
Definisi Paling Longgar: Melihat Nabi dalam Keadaan Muslim
رَائِي النَّبِيِّ مُسْلِماً: ذُو صُحْبَةِ
"(Orang yang) melihat Nabi dalam keadaan muslim: itulah pemilik 'Shuhbah' (kesahabatan)." Ini definisi paling luas dan paling banyak dipegang: seseorang tidak perlu berteman dekat atau lama bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk disebut Sahabat -cukup pernah bertemu/melihat beliau langsung dalam keadaan sudah memeluk Islam.
Definisi yang Lebih Ketat
وَقِيلَ: إِنْ طَالَتْ وَلَمْ يُثَبَّتِ * مَعَهُ، وَذَا لِابْنِ الْمُسَيَّبِ عَزَا
وَقِيلَ: مَنْ أَقَامَ عَاماً وَغَزَا
"Dan dikatakan (pula): syaratnya harus (kebersamaannya) lama, meski tidak menetap terus bersama beliau -ini dinisbatkan pada (pendapat) Ibnul Musayyab. Dan dikatakan (pula): (syaratnya) siapa yang tinggal setahun dan ikut berperang bersama (Nabi)." Al-'Iraqi mencatat perdebatan ini secara jujur -meski definisi longgar (sekadar pernah melihat) yang paling banyak dipegang, ada ulama seperti Sa'id bin Al-Musayyab yang mensyaratkan durasi kebersamaan yang lebih signifikan.
Cara Mengetahui Status Kesahabatan Seseorang
وَتُعْرَفُ الصُّحْبَةُ بِاشْتِهَارٍ أَوْ * تَوَاتُرٍ أَوْ قَوْلِ صَاحِبٍ، وَلَوْ
"Dan Ash-Shuhbah (status kesahabatan) diketahui lewat: kemasyhuran (sudah dikenal luas), atau kemutawatiran (diriwayatkan banyak jalur independen), atau perkataan seorang Sahabat lain (yang mempersaksikan) -meski (persaksian itu) hanya satu orang saja." Tiga jalur pembuktian ini menunjukkan bahwa status Sahabat tidak diklaim sembarangan -ada standar verifikasi, meski standarnya lebih longgar dibanding syarat 'Adalah rawi biasa (naw' 23) yang umumnya butuh tazkiyah formal.
Semua Sahabat Dianggap 'Adl
وَهُمْ عُدُولٌ
"Dan mereka (para Sahabat) semuanya 'adl (terpercaya integritasnya)." Ini prinsip fundamental dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah: setiap Sahabat, tanpa terkecuali, dianggap memenuhi syarat 'Adalah secara otomatis -tidak perlu tazkiyah individual seperti generasi rawi sesudahnya. Dasarnya adalah kesaksian Al-Qur'an dan hadits yang memuji generasi Sahabat secara umum. Al-'Iraqi mencatat ada pendapat minoritas yang mengecualikan Sahabat yang terlibat dalam fitnah (perpecahan politik pasca-wafatnya Utsman dan 'Ali) -tapi ini bukan pendapat mayoritas ulama Ahlus Sunnah.
Enam Sahabat Perawi Hadits Terbanyak
وَالْمُكْثِرُونَ سِتَّةُ * الْبَحْرُ، جَابِرٌ، أَبُو هُرَيْرَةِ
"Dan (Sahabat) yang paling banyak meriwayatkan hadits ada enam: Al-Bahr (julukan Ibnu 'Abbas, artinya 'lautan ilmu'), Jabir (bin 'Abdillah), Abu Hurairah..." -dilanjutkan tiga nama lagi ('Aisyah, Ibnu 'Umar, dan Anas bin Malik dalam susunan lengkap yang umum dikenal). Keenam Sahabat inilah yang jadi sumber mayoritas hadits yang sampai ke generasi berikutnya -bukan kebetulan, tapi karena usia panjang mereka setelah wafatnya Nabi dan kedekatan mereka dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Catatan & Referensi
Bait naw' 39 (bait ke-786 s/d ke-791) ditranskripsi dari edisi tahqiq At-Tabshirah wat-Tadzkirah (Alfiyah al-'Iraqi), seri Mutun Thalib al-'Ilm, bagian "Ma'rifat Ash-Shahabah" -naw' ini juga membahas lebih lanjut jumlah total Sahabat yang hadir di berbagai peristiwa (Badar, Bai'atur Ridhwan, Haji Wada') dan Sahabat yang paling banyak berfatwa, yang belum ditranskripsi lengkap pada pembaruan bab ini.
↩