Naw' ketiga puluh tiga membahas Al-Musalsal -kategori hadits yang unik karena bukan dinilai dari kualitas sanadnya, tapi dari sebuah pola berulang yang menyertai setiap rawi dalam rangkaian periwayatannya.
Definisi: Kesamaan yang Berulang di Setiap Rawi
«مُسَلْسَلُ الْحَدِيثِ»: مَا تَوَارَدَا * فِيهِ الرُّوَاةُ فِعْلاً وَاحِداً فَوَاحِدَا
"Musalsalul Hadits adalah: apa yang para rawinya sama-sama melakukan satu perbuatan yang sama, satu demi satu (berturut-turut sepanjang sanad)." Yang membuat hadits Musalsal istimewa adalah pola berulangnya -setiap rawi dalam sanad, dari yang paling awal sampai paling akhir, MELAKUKAN atau MENYERTAKAN sesuatu yang identik saat meriwayatkan hadits itu.
أَوْ وَصْفَ سَنَدٍ أَوْ وَصْفاً لَهُمْ حَالاً * كَقَوْلِ كُلِّهِمْ: «سَمِعْتُ»
"Atau (kesamaan itu berupa) sifat sanad tertentu, atau sifat keadaan mereka -seperti perkataan mereka semua: 'sami'tu' (aku mendengar)." Kesamaan yang dimaksud bisa berupa perbuatan fisik (misalnya setiap rawi memegang jenggotnya sendiri saat menyampaikan hadits tertentu), atau kesamaan lafal periwayatan (semua rawi konsisten memakai kata "sami'tu", tidak pernah memakai lafal lain), atau kesamaan status (misalnya semua rawi dalam sanad itu kebetulan berprofesi sama, atau punya gelar yang sama).
Delapan Macam, Tapi Jarang yang Selamat dari Kelemahan
وَقَسَّمُهُ إِلَى ثَمَانِ مُثُلُ * وَقَلَّمَا يَسْلَمُ ضَعْفاً يَحْصُلُ
"Pembagiannya ada delapan macam, dan JARANG SEKALI (hadits Musalsal) yang selamat dari kelemahan yang muncul." Ini catatan realistis dan penting dari Al-'Iraqi: meski konsep Musalsal terdengar menarik dan sering jadi favorit dalam tradisi periwayatan (karena punya "nilai tambah" berupa keunikan pola), secara statistik kebanyakan hadits Musalsal justru punya kelemahan di sanadnya -entah karena rantai kesamaan yang diklaim itu sendiri sulit diverifikasi secara ketat di setiap generasi, atau karena fokus menjaga "pola" kadang mengorbankan kecermatan pada aspek sanad yang lain.
Contoh: Musalsal yang Justru Terputus Rangkaiannya
وَمِنْهُ ذُو نَقْصٍ بِقَطْعِ السِّلْسِلَهْ * كَـ«أَوَّلِيَّةٍ»، وَبَعْضٌ وَصَلَهْ
"Dan di antaranya ada yang kurang karena terputus rangkaiannya, seperti (musalsal) 'Awwaliyyah' (musalsal keutamaan/permulaan) -sedangkan sebagian (ulama lain) menganggapnya tetap bersambung." Al-'Iraqi mencontohkan salah satu jenis Musalsal paling populer -Musalsal Awwaliyyah, hadits yang secara tradisi selalu diriwayatkan sebagai hadits PERTAMA yang didengar seorang penuntut ilmu dari gurunya- ternyata di sebagian jalur mengalami keterputusan rangkaian "pola" kesamaannya, meski sanadnya sendiri (dari sisi ketersambungan rawi) tetap diperselisihkan status keutuhannya oleh ulama.
Catatan & Referensi
Bait naw' 33 (bait ke-764 s/d ke-767) ditranskripsi dari edisi tahqiq At-Tabshirah wat-Tadzkirah (Alfiyah al-'Iraqi), seri Mutun Thalib al-'Ilm, bagian "Al-Musalsal".
↩