Naw' 31: Al-Gharib dan Al-'Aziz -Ujung Bawah Skala yang Sama dengan Al-Masyhur

Naw' ketiga puluh satu melengkapi pembahasan naw' sebelumnya dengan fokus pada dua ujung bawah skala -Al-Gharib dan Al-'Aziz- sekaligus menjelaskan detail definisi Ibnu Mandah yang lebih spesifik.

Al-Gharib: Diriwayatkan Mutlak Sendirian

وَمَا بِهِ مُطْلَقاً الرَّاوِي انْفَرَدْ * فَهْوَ «الْغَرِيبُ»

1

"Dan apa yang seorang rawi menyendiri (meriwayatkannya) secara mutlak, itu disebut Al-Gharib." Ini konsep yang sudah disinggung di naw' 17 (Al-Afrad) dengan istilah "Al-Fard" -Al-Gharib pada dasarnya istilah sinonim untuk konsep yang sama, hanya lebih sering dipakai dalam konteks pembahasan Masyhur-'Aziz-Gharib sebagai satu rangkaian utuh.

Definisi Lebih Spesifik dari Ibnu Mandah

وَابْنُ مَنْدَةٍ فَحَدّ حَدِيثُهُ فَإِنْ عَلَيْهِ يُتْبَعُ * بِالِانْفِرَادِ عَنْ إِمَامٍ يُجْمَعُ

"Sedangkan Ibnu Mandah membatasi haditsnya (dengan definisi lebih rinci): kalau (kesendirian rawi itu) diikuti dengan penyendirian dari seorang IMAM (tokoh besar) tertentu, yang (riwayatnya) dikumpulkan/dihimpun (banyak orang)." Ibnu Mandah menekankan bahwa titik kesendirian (tafarrud) yang paling relevan diperhatikan adalah di sekitar seorang rawi besar/imam yang jadi pusat perhatian banyak murid -kalau HANYA satu di antara sekian banyak muridnya yang meriwayatkan sesuatu darinya, itu jadi kasus Gharib yang paling signifikan untuk diteliti (karena harusnya, kalau memang shahih, lebih banyak murid lain juga akan meriwayatkannya).

Bisa Terjadi di Titik Mana Pun dalam Sanad

Poin penting yang berlaku untuk seluruh rangkaian Gharib-'Aziz-Masyhur: status ini ditentukan berdasarkan titik PALING SEDIKIT jalurnya di sepanjang sanad, bukan cuma dihitung dari ujung sanad (dekat Nabi) atau ujung lain (dekat penyusun kitab) saja. Sebuah hadits bisa saja diriwayatkan banyak Sahabat (tampak Masyhur di ujung atas), tapi kemudian menyempit jadi hanya satu jalur di satu generasi tertentu di tengah sanadnya -titik penyempitan itulah yang menentukan statusnya sebagai Gharib, meski secara keseluruhan riwayatnya "terkenal" isinya. Inilah yang menjelaskan kenapa sebuah hadits populer (dikenal luas kandungannya) tetap bisa diklasifikasikan Gharib secara teknis sanad -dua penilaian yang berbeda dimensi, sebagaimana sudah disinggung di naw' sebelumnya soal dua makna "Masyhur".

Catatan & Referensi

  1. Bait naw' 31 (bait ke-748 s/d ke-750, bagian dari blok bait yang sama dengan naw' 30) ditranskripsi dari edisi tahqiq At-Tabshirah wat-Tadzkirah (Alfiyah al-'Iraqi), seri Mutun Thalib al-'Ilm, bagian "Al-Gharib wal-'Aziz wal-Masyhur".

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email