Naw' 21: Al-Maudhu' -Kedustaan Atas Nama Nabi, dan Kenapa "Niat Baik" Tidak Jadi Alasan

Naw' kedua puluh satu membahas Al-Maudhu' -tingkatan paling buruk dari seluruh hadits Dha'if, karena bukan sekadar lemah sanadnya, tapi benar-benar kedustaan yang direka-reka dan disandarkan palsu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Definisi: Kedustaan yang Direka-Reka

شَرُّ الضَّعِيفِ الْخَبَرُ «الْمَوْضُوعُ» * الْكَذِبُ الْمُخْتَلَقُ الْمَصْنُوعُ

1

"Sejelek-jeleknya hadits Dha'if adalah kabar Al-Maudhu' -kedustaan yang direka-reka lagi dibuat-buat." Ini menegaskan posisi Al-Maudhu' di puncak (atau lebih tepatnya, dasar paling bawah) piramida kelemahan hadits -berbeda dari kategori Dha'if lain yang masih bisa jadi kelemahan teknis (sanad terputus, rawi lupa, dsb.), Al-Maudhu' adalah kedustaan yang DISENGAJA.

Larangan Menyampaikannya Tanpa Penjelasan

وَكَيْفَ كَانَ لَمْ يُجِيزُوا ذِكْرَهُ * لِمَنْ عَلِمْ؛ مَا لَمْ يُبَيِّنْ أَمْرَهُ

"Bagaimanapun keadaannya, mereka (ulama) tidak membolehkan penyebutannya bagi orang yang TAHU (statusnya palsu), selama tidak dijelaskan keadaannya." Ini prinsip yang masih relevan sampai sekarang: seseorang yang sudah tahu sebuah hadits itu palsu, dilarang menyebarkannya tanpa menyertakan penjelasan bahwa itu palsu -bahkan kalau isinya kelihatan "baik" atau memotivasi kebaikan sekalipun.

Kisah Nyata: Pengakuan Seorang Pemalsu Hadits

Al-'Iraqi mencatat kisah yang jadi salah satu contoh paling terkenal dalam sejarah ilmu hadits -tentang motivasi seseorang memalsukan hadits, dan bagaimana ia sendiri kemudian mengakuinya.

نَحْوُ أَبِي عِصْمَةَ إِذْ رَأَى الْوَرَى * زَعْماً نَأَوْا عَنِ الْقُرْآنِ فَافْتَرَى

لَهُمْ حَدِيثاً فِي فَضَائِلِ السُّوَرْ * كَذَا الْحَدِيثُ عَنْ أُبَيٍّ اعْتَرَفْ

رَاوِيهِ بِالْوَضْعِ مُخْطِئٌ صَوَابَهُ

"Seperti Abu 'Ishmah -ketika ia melihat manusia (menurut anggapannya) menjauh dari Al-Qur'an, ia lalu membuat-buat untuk mereka sebuah hadits tentang keutamaan surah-surah (Al-Qur'an), disandarkan pada (Sahabat) Ubay (bin Ka'ab). Perawinya sendiri MENGAKUI pemalsuannya -salah dalam (menyangka) itu suatu kebenaran." Kisah ini (dikenal luas menyangkut Nuh bin Abi Maryam, dijuluki Abu 'Ishmah) sering dikutip sebagai contoh paling gamblang: seorang yang niatnya membuat orang lebih semangat membaca Al-Qur'an, memalsukan hadits tentang keutamaan tiap surah, lalu belakangan mengaku sendiri perbuatannya -dan pengakuannya sendiri yang jadi bukti paling kuat kepalsuannya.

Kelompok yang Membolehkan Pemalsuan untuk Targhib-Tarhib

Al-'Iraqi mencatat -tanpa membenarkan- adanya sebuah kelompok yang justru menganggap boleh memalsukan hadits selama untuk tujuan targhib (memotivasi kebaikan) dan tarhib (menakut-nakuti dari dosa).

وَجَوَّزَ الْوَضْعَ عَلَى التَّرْغِيبِ * قَوْمٌ كَرَّامٍ وَفِي التَّرْهِيبِ

"Dan sekelompok (dinisbatkan pada) Kurram membolehkan pemalsuan untuk (tujuan) targhib dan tarhib." Pencatatan ini penting bukan sebagai pembenaran, tapi justru sebagai contoh nyata kesalahan berpikir yang harus ditolak -"niat baik" (memotivasi ibadah) tidak pernah jadi alasan sah untuk berdusta atas nama Nabi, sejalan dengan hadits mutawatir "man kadzaba 'alayya muta'ammidan falyatabawwa' maq'adahu minan-nar" (barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka).

Bukan Cuma Karangan Sendiri: Mengubah Perkataan Filsuf Jadi "Hadits"

وَالْوَاضِعُونَ بَعْضُهُمْ قَدْ صَنَعَا * مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ، وَبَعْضٌ وَضَعَا

كَلَامَ بَعْضِ الْحُكَمَا فِي الْمُسْنَدِ

"Para pemalsu hadits, sebagiannya membuat dari diri mereka sendiri (karangan murni), dan sebagian lain memalsukan (dengan cara mengubah) perkataan sebagian filsuf/orang bijak menjadi (seolah) hadits ber-Musnad." Ini mekanisme pemalsuan kedua: bukan mengarang dari nol, tapi mengambil kata-kata bijak/filosofis yang sebenarnya bukan sabda Nabi, lalu dibungkus dengan sanad palsu supaya tampak seperti hadits sahih.

Bukan Cukup Menilai dari "Gaya Bahasa" Saja

Naw' ini ditutup dengan catatan metodologis penting: menilai sebuah hadits palsu HANYA dari gaya bahasanya yang terasa "janggal" (rikkah), tanpa bukti sanad/konten lain, adalah metode yang dipertanyakan Al-'Iraqi.

وَرُبَّمَا الثَّبَجِيُّ الْقَطْعَ بِالْوَضْعِ عَلَى * يُعْرَفُ بِالرِّكَّةِ، قُلْتُ: اسْتُشْكِلَا

"Dan terkadang Ats-Tsabaji (memvonis) kepastian pemalsuan berdasarkan (kejanggalan) yang dikenali dari kelemahan gaya bahasa (rikkah) semata. Aku (Al-'Iraqi) berkata: ini dipermasalahkan (metodenya)." Ini menunjukkan kehati-hatian metodologis Al-'Iraqi -vonis "hadits palsu" tidak boleh sembarangan hanya berdasarkan "perasaan" bahwa gaya bahasanya terasa aneh, tapi harus didukung bukti nyata (sanad yang jelas-jelas cacat, pengakuan pemalsu, atau pertentangan konten yang tidak masuk akal secara syar'i) -sebuah sikap kehati-hatian yang sejalan dengan standar anti-fabrikasi yang jadi pegangan setiap penulisan hadits di manapun, termasuk kutipan Qur'an/Hadits di situs ini sendiri.

Catatan & Referensi

  1. Bait naw' 21 (bait ke-225 s/d ke-241) ditranskripsi dari edisi tahqiq At-Tabshirah wat-Tadzkirah (Alfiyah al-'Iraqi), seri Mutun Thalib al-'Ilm, bagian "Al-Maudhu'". Kisah Abu 'Ishmah (Nuh bin Abi Maryam) yang mengaku memalsukan hadits keutamaan surah-surah Al-Qur'an adalah salah satu kisah paling sering dikutip di literatur ilmu hadits untuk menjelaskan bahaya niat baik yang salah kaprah dalam memalsukan hadits.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email