Naw' kedelapan menutup rangkaian empat istilah "tingkatan penyandaran" yang dimulai dari Al-Marfu' (ke Nabi), Al-Mauquf (ke Sahabat), dan sekarang Al-Maqthu' (ke Tabi'in) -sekaligus mengangkat satu kerancuan istilah yang penting diketahui.
Definisi: Perkataan dan Perbuatan Tabi'in
وَسَمِّ بِ«الْمَقْطُوعِ»: قَوْلَ التَّابِعِي * وَفِعْلَهُ
"Namailah dengan 'Maqthu'': perkataan Tabi'in dan perbuatannya." Sejalan dengan pola tiga naw' sebelumnya, Al-Maqthu' adalah riwayat yang disandarkan hanya sampai ke generasi Tabi'in -satu tingkat lagi di bawah Al-Mauquf (Sahabat).
Kerancuan dengan Al-Munqathi'
Bagian paling menarik dari naw' ini adalah catatan Al-'Iraqi soal penggunaan istilah yang membingungkan -bahkan di kalangan ulama besar sekalipun.
وَقَدْ رَأَى لِلشَّافِعِي * تَعْبِيرَةً بِهِ عَنِ «الْمُنْقَطِعِ»
قُلْتُ: وَعَكْسُهُ اصْطِلَاحُ الْبَرْذَعِي
"Dan aku (Al-'Iraqi) melihat bahwa Imam Asy-Syafi'i menggunakan istilah ini (Maqthu') untuk memaksudkan Al-Munqathi' (sanad yang terputus). Aku (Al-'Iraqi) berkata: dan kebalikannya adalah istilah yang dipakai Al-Bardza'i (menggunakan Munqathi' untuk memaksudkan Maqthu')." Ini poin krusial yang harus diperhatikan pembaca kitab-kitab klasik: Al-Maqthu' (perkataan/perbuatan Tabi'in -istilah tentang SIAPA sumbernya) dan Al-Munqathi' (sanad yang ada mata rantai hilang -istilah tentang BENTUK sanadnya, akan dibahas di naw' tersendiri) sebenarnya dua konsep yang sama sekali berbeda. Tapi karena kemiripan bunyi kedua kata itu dalam bahasa Arab (sama-sama dari akar kata qatha'a, memutus), sebagian ulama -termasuk Imam Asy-Syafi'i menurut catatan Al-'Iraqi- pernah memakai salah satu istilah untuk memaksudkan yang lain, dan Al-Bardza'i (ulama hadits, Abu 'Utsman Sa'id bin 'Utsman) melakukan pertukaran sebaliknya.
Al-'Iraqi mencantumkan catatan ini bukan untuk membenarkan salah satu pemakaian yang "tertukar" itu, tapi justru sebagai peringatan: pembaca kitab-kitab hadits klasik perlu waspada, karena istilah yang sama bisa dipakai berbeda maknanya tergantung penulisnya -dan definisi baku yang dipegang dalam ilmu Musthalah Hadits sendiri (Maqthu' = perkataan Tabi'in, Munqathi' = sanad terputus) tetap yang jadi rujukan standar sampai sekarang.
Catatan & Referensi
Bait naw' 8 (bait ke-103 s/d ke-104) ditranskripsi dari edisi tahqiq At-Tabshirah wat-Tadzkirah (Alfiyah al-'Iraqi), seri Mutun Thalib al-'Ilm, bagian "Al-Maqthu'". Naw' Al-Munqathi' yang dibandingkan di bait ini akan dibahas tersendiri sebagai naw' 10 di kitab ini.
↩