Alfiyah al-'Iraqi -yang judul aslinya At-Tabshirah wat-Tadzkirah fi 'Ulum al-Hadits- adalah nazham (syair) sepanjang 1002 bait karya Al-Hafizh Abu al-Fadhl Zainuddin Abdurrahim bin al-Husain Al-'Iraqi (wafat 806 H). Nazham ini bukan karya orisinal dari nol, tapi ringkasan bersyair dari kitab Ma'rifat Anwa' 'Ulum al-Hadits karya Ibnu Shalah asy-Syahrazuri (wafat 643 H) -kitab yang selama berabad-abad jadi rujukan induk ilmu Musthalah Hadits, dan akan dibahas tersendiri di jenjang Lanjut ini juga. Al-'Iraqi tidak sekadar memampatkan isi Ibnu Shalah jadi bait-bait yang mudah dihafal; ia juga menambahkan sejumlah masalah, pendapat ulama lain, dan koreksi (tanbihat) yang tidak ada di kitab aslinya.
Sebagai kitab pembuka jenjang Lanjut Ulumul Hadits Berjenjang di Ngajisanad, wajar kalau bab pertama ini bukan langsung membahas definisi Hadits Shahih, tapi mengenal dulu bagaimana Al-'Iraqi sendiri menjelaskan maksud dan cara baca karyanya -supaya bait-bait di bab-bab selanjutnya tidak terasa asing formatnya.
Pembukaan: Puji-pujian dan Tujuan Nazham
Seperti kebiasaan penulis kitab klasik, Al-'Iraqi membuka nazhamnya dengan puji-pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sebelum menyebutkan maksud penulisannya.
يَقُولُ رَاجِي رَبِّهِ الْمُقْتَدِرِ * عَبْدُ الرَّحِيمِ بْنُ الْحُسَيْنِ الْأَثَرِي
مِنْ بَعْدِ حَمْدِ اللَّهِ ذِي الْآلَاءِ * عَلَى امْتِنَانٍ جَلَّ عَنْ إِحْصَاءِ
ثُمَّ صَلَاةٍ وَسَلَامٍ دَائِمِ * عَلَى نَبِيِّ الْخَيْرِ ذِي الْمَرَاحِمِ
Terjemahan bebasnya: "Berkata seorang yang mengharap Rabb-nya Yang Mahakuasa, Abdurrahim bin al-Husain Al-Atsari (Al-'Iraqi) -setelah memuji Allah pemilik segala nikmat, atas karunia yang tak terhitung- kemudian shalawat dan salam yang terus-menerus atas Nabi pembawa kebaikan yang penuh kasih sayang."
Sesudah pembukaan itu, Al-'Iraqi langsung menyebutkan alasan ia menulis nazham ini: meringkas seluruh isi kitab Ibnu Shalah, sekaligus menambahkan hal-hal yang menurutnya perlu.
فَهَذِهِ الْمَقَاصِدُ الْمُهِمَّهْ * تُوضِحُ مِنْ عِلْمِ الْحَدِيثِ رَسْمَهْ
نَظَمْتُهَا تَبْصِرَةً لِلْمُبْتَدِي * تَذْكِرَةً لِلْمُنْتَهِي وَالْمُسْنِدِ
لَخَّصْتُ فِيهَا ابْنَ الصَّلَاحِ أَجْمَعَهْ * وَزِدْتُهَا عِلْمًا تَرَاهُ مَوْضِعَهْ
"Inilah maksud-maksud penting yang menjelaskan gambaran ilmu hadits. Aku menyusunnya sebagai tabshirah (penerang) bagi pemula, dan tadzkirah (pengingat) bagi yang sudah mahir dan sudah punya sanad sendiri (musnid). Aku meringkas seluruh isi Ibnu Shalah di dalamnya, dan menambahkannya dengan ilmu yang akan kamu lihat sendiri tempatnya." Dari sinilah judul asli kitab ini berasal: At-Tabshirah (untuk pemula) wat-Tadzkirah (untuk yang sudah mahir).
Kode Baca: Siapa yang Dimaksud dengan "Qala" dan "Asy-Syaikh"
Bagian penting yang sering dilewatkan pembaca pemula: Al-'Iraqi menutup muqaddimahnya dengan semacam "kunci baca" -menjelaskan bahwa istilah rujukan tertentu di sepanjang nazham ini punya makna baku, supaya pembaca tidak salah paham siapa yang sedang dikutip.
فَحَيْثُ جَاءَ الْفِعْلُ وَالضَّمِيرُ * لِوَاحِدٍ وَمَنْ لَهُ مَسْتُورُ
أُرِيدُ إِلَّا ابْنَ الصَّلَاحِ مُبْهَمَا * كَـ"قَالَ" أَوْ أَطْلَقْتُ لَفْظَ "الشَّيْخِ" مَا
وَإِنْ يَكُنْ لِاثْنَيْنِ نَحْوُ "الْتَزَمَا" * فَمُسْلِمٌ مَعَ الْبُخَارِيِّ هُمَا
Maksudnya: setiap kali dalam nazham ini muncul kata kerja atau kata ganti untuk satu orang yang tidak disebut namanya secara jelas -misalnya kata "qala" (dia berkata) begitu saja, atau sebutan "asy-syaikh" (sang guru)- yang dimaksud Al-'Iraqi tidak lain adalah Ibnu Shalah sendiri. Sedangkan kalau bentuknya untuk dua orang sekaligus, seperti kata "iltazama" (keduanya berkomitmen/sepakat), maka yang dimaksud adalah Imam Muslim bersama Imam Al-Bukhari.1
Konvensi ini akan terus dipakai di bab-bab selanjutnya kitab ini -jadi kalau nanti kamu menemukan bait yang menyebut "qala" tanpa nama, atau "asy-syaikhani" (dua syaikh, bentuk dual dari asy-syaikh) untuk merujuk Bukhari-Muslim sekaligus, kamu sudah tahu maksudnya dari muqaddimah ini.
Kenapa Bentuk Nazham, Bukan Prosa Biasa?
Memilih bentuk syair (nazham) untuk kitab ilmu bukan kebiasaan asing dalam tradisi keilmuan Islam -dari ilmu nahwu (Alfiyah Ibnu Malik), ushul fiqh, sampai musthalah hadits sendiri, banyak matan penting sengaja disusun berbait supaya lebih mudah dihafal santri, sebelum dipelajari maknanya lebih dalam lewat syarah (penjelasan). Bahr (wazan/pola irama) yang dipakai Al-'Iraqi dalam Alfiyah ini adalah bahr rajaz -pola yang juga dipakai banyak matan ilmu lain karena iramanya relatif mudah diikuti dibanding bahr-bahr lain dalam ilmu 'arudh.
Di bab-bab selanjutnya, kitab ini akan mengikuti urutan asli 65 naw' (jenis/pembahasan) yang diwariskan dari Ibnu Shalah -mulai dari pembagian dasar hadits menjadi Shahih, Hasan, dan Dha'if, sampai ke pembahasan paling teknis seperti thabaqat rawi dan asal daerah para perawi. Setiap bab akan mengutip bait aslinya lengkap dengan teks Arab dan terjemahan, tanpa menerjemahkan istilah musthalah-nya sendiri -karena istilah seperti sanad, matan, 'illah, atau nanti Shahih/Hasan/Dha'if memang harus dikenali dalam bentuk aslinya, bukan padanan bahasa Indonesia yang bisa mengaburkan makna teknisnya.
Catatan & Referensi
Teks Arab bait 1-10 dalam bab ini ditranskripsi dari edisi tahqiq At-Tabshirah wat-Tadzkirah (Alfiyah al-'Iraqi), cetakan seri Mutun Thalib al-'Ilm, disandingkan dengan sebagian bait yang juga tersedia di Wikisource Arab untuk pengecekan silang. Nomor bait mengikuti penomoran edisi tahqiq tersebut (total 1002 bait).
↩