An-Naw' Ar-Rabi' wa-Sittin: Ma'rifatul Mawali minar-Ruwat wal-'Ulama'
وَهُوَ مِنَ الْمُهِمَّاتِ، فَرُبَّمَا نُسِبَ أَحَدُهُمْ إِلَى الْقَبِيلَةِ، فَيَعْتَقِدُ السَّامِعُ أَنَّهُ مِنْهُمْ صَلِيبَةً، وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ مَوَالِيهِمْ. فَيُمَيَّزُ ذَلِكَ لِيُعْلَمَ، وَإِنْ كَانَ قَدْ وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ: " مَوْلَى الْقَوْمِ مِنْ أَنْفُسِهِمْ "
"Ilmu ini termasuk perkara penting, sebab terkadang seseorang dinisbatkan kepada suatu kabilah, sehingga pendengarnya mengira ia berasal dari nasab kabilah itu sendiri (shalibah), padahal ia hanyalah maula (mantan budak/klien) mereka. Maka hal ini perlu dibedakan agar diketahui dengan jelas - meski telah datang dalam hadits: 'Maula suatu kaum adalah bagian dari mereka sendiri.'"
وَمِنْ ذَلِكَ: أَبُو الْبَخْتَرِيِّ " الطَّائِيُّ " وَهُوَ سَعِيدُ بْنُ فَيْرُوزَ، وَهُوَ مَوْلَاهُمْ. وَكَذَلِكَ أَبُو الْعَالِيَةِ " الرِّيَاحِيُّ ". وَكَذَلِكَ اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ " الْفَهْمِيُّ ". وَكَذَلِكَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ " الْقُرَشِيُّ "، وَهُوَ مَوْلًى لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ صَالِحٍ كَاتِبِ اللَّيْثِ. وَهَذَا كَثِيرٌ
"Di antara contohnya: Abul Bakhtari 'Ath-Tha'i', yaitu Sa'id bin Fairuz, ia adalah maula mereka (Bani Thay). Begitu pula Abul 'Aliyah 'Ar-Riyahi'. Begitu pula Al-Laits bin Sa'd 'Al-Fahmi'. Begitu pula 'Abdullah bin Wahb 'Al-Qurasyi', ia adalah maula bagi 'Abdullah bin Shalih, sekretaris Al-Laits. Dan contoh semacam ini banyak sekali."
فَأَمَّا مَا يُذْكَرُ فِي تَرْجَمَةِ الْبُخَارِيِّ: أَنَّهُ " مَوْلَى الْجُعْفِيِّينَ " فَلِإِسْلَامِ جَدِّهِ الْأَعْلَى عَلَى يَدِ بَعْضِ الْجُعْفِيِّينَ
"Adapun apa yang disebutkan dalam biografi Al-Bukhari, bahwa ia adalah 'maula Bani Ju'fi', itu karena kakek jauhnya masuk Islam lewat tangan salah seorang Bani Ju'fi (bukan karena perbudakan)."
وَكَذَلِكَ الْحَسَنُ بْنُ عِيسَى الْمَاسَرْجِسِيُّ: يُنْسَبُ إِلَى وَلَاءِ عَبْدِ اللَّهِ ابْنِ الْمُبَارَكِ، بِأَنَّهُ أَسْلَمَ عَلَى يَدَيْهِ، وَكَانَ نَصْرَانِيًّا
"Begitu pula Al-Hasan bin 'Isa Al-Masarjisi: dinisbatkan kepada wala' 'Abdullah Ibnul Mubarak, karena ia masuk Islam lewat tangannya, padahal sebelumnya ia seorang Nashrani."
وَقَدْ يَكُونُ بِالْحِلْفِ، كَمَا يُقَالُ فِي نَسَبِ الْإِمَامِ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ " مَوَالِي التَّيْمِيِّينَ "، وَهُوَ حِمْيَرِيٌّ أَصْبَحِيٌّ صَلِيبَةً، وَلَكِنْ كَانَ جَدُّهُ مَالِكُ بْنُ أَبِي عَامِرٍ حَلِيفًا لَهُمْ، وَقَدْ كَانَ عَسِيفًا عِنْدَ طَلْحَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ التَّيْمِيِّ أَيْضًا، فَنُسِبَ إِلَيْهِمْ كَذَلِكَ
"Terkadang nisbat mawali juga bisa terjadi karena hilf (perjanjian persekutuan), sebagaimana dikatakan dalam nasab Al-Imam Malik bin Anas: 'Mawali At-Taimiyyin' - padahal beliau sendiri adalah orang Himyar Ashbahi asli (bukan maula sungguhan), hanya saja kakeknya, Malik bin Abi 'Amir, dahulu adalah sekutu (hilf) bagi mereka, dan ia juga pernah menjadi buruh/pekerja pada Thalhah bin 'Abdillah At-Taimi, sehingga ia pun dinisbatkan kepada mereka dengan cara demikian."
Kedudukan Mulia Para Mawali di Kalangan Ulama Salaf
وَقَدْ كَانَ جَمَاعَةٌ مِنْ سَادَاتِ الْعُلَمَاءِ فِي زَمَنِ السَّلَفِ مِنَ الْمَوَالِي، وَقَدْ رَوَى مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ: أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ لَمَّا تَلَقَّاهُ نَائِبُ مَكَّةَ أَثْنَاءَ الطَّرِيقِ فِي حَجٍّ أَوْ عُمْرَةٍ، قَالَ لَهُ: مَنِ اسْتَخْلَفْتَ مِنْ أَهْلِ الْوَادِي؟ قَالَ: ابْنَ أَبْزَى، قَالَ: وَمَنِ ابْنُ أَبْزَى؟ قَالَ: رَجُلٌ مِنَ الْمَوَالِي، فَقَالَ: أَمَا إِنِّي سَمِعْتُ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْعِلْمِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ "
"Pada masa salaf, sekelompok tokoh terkemuka di kalangan ulama berasal dari kalangan mawali. Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya: bahwa ketika 'Umar bin Al-Khaththab disambut oleh wakilnya di Makkah di tengah perjalanan haji atau umrah, ia bertanya kepadanya: 'Siapa yang engkau angkat menjadi wakil bagi penduduk lembah (Makkah)?' Ia menjawab: 'Ibnu Abza.' 'Umar bertanya: 'Siapakah Ibnu Abza itu?' Ia menjawab: 'Seorang laki-laki dari kalangan mawali.' Maka 'Umar berkata: 'Ketahuilah, aku pernah mendengar Nabi kalian shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya dengan ilmu ini, Allah mengangkat derajat sebagian kaum, dan merendahkan derajat sebagian yang lain.'"
وَذَكَرَ الزُّهْرِيُّ أَنَّ هِشَامَ بْنَ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ لَهُ: مَنْ يَسُودُ مَكَّةَ؟ فَقُلْتُ: عَطَاءٌ، قَالَ فَأَهْلُ الْيَمَنِ؟ قُلْتُ: طَاوُوسٌ، قَالَ: فَأَهْلُ الشَّامِ؟ فَقُلْتُ: مَكْحُولٌ، قَالَ: فَأَهْلُ مِصْرَ؟ قُلْتُ: يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ، قَالَ: فَأَهْلُ الْجَزِيرَةِ؟ فَقُلْتُ: مَيْمُونُ بْنُ مِهْرَانَ، قَالَ: فَأَهْلُ خُرَاسَانَ؟ قُلْتُ: الضَّحَّاكُ بْنُ مُزَاحِمٍ، قَالَ: فَأَهْلُ الْبَصْرَةِ؟ فَقُلْتُ: الْحَسَنُ بْنُ أَبِي الْحَسَنِ، قَالَ: فَأَهْلُ الْكُوفَةِ؟ فَقُلْتُ: إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ، وَذَكَرَ أَنَّهُ يَقُولُ لَهُ عِنْدَ كُلِّ وَاحِدٍ: أَمِنَ الْعَرَبِ أَمْ مِنَ الْمَوَالِي؟ فَيَقُولُ: مِنَ الْمَوَالِي، فَلَمَّا انْتَهَى قَالَ: يَا زُهْرِيُّ، وَاللَّهِ لَتَسُودَنَّ الْمَوَالِي عَلَى الْعَرَبِ حَتَّى يُخْطَبَ لَهَا عَلَى الْمَنَابِرِ وَالْعَرَبُ تَحْتَهَا، فَقُلْتُ: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، إِنَّمَا هُوَ أَمْرُ اللَّهِ وَدِينُهُ، فَمَنْ حَفِظَهُ سَادَ، وَمَنْ ضَيَّعَهُ سَقَطَ
"Az-Zuhri menceritakan bahwa Hisyam bin 'Abdil Malik pernah bertanya kepadanya: 'Siapa yang menjadi pemuka Makkah?' Aku (Az-Zuhri) menjawab: ''Atha'.' Ia bertanya: 'Lalu penduduk Yaman?' Aku menjawab: 'Thawus.' Ia bertanya: 'Lalu penduduk Syam?' Aku menjawab: 'Makhul.' Ia bertanya: 'Lalu penduduk Mesir?' Aku menjawab: 'Yazid bin Abi Habib.' Ia bertanya: 'Lalu penduduk Jazirah?' Aku menjawab: 'Maimun bin Mihran.' Ia bertanya: 'Lalu penduduk Khurasan?' Aku menjawab: 'Adh-Dhahhak bin Muzahim.' Ia bertanya: 'Lalu penduduk Bashrah?' Aku menjawab: 'Al-Hasan bin Abil Hasan (Al-Bashri).' Ia bertanya: 'Lalu penduduk Kufah?' Aku menjawab: 'Ibrahim An-Nakha'i.' Az-Zuhri menyebutkan bahwa Hisyam bertanya kepadanya pada setiap nama yang disebut: 'Apakah ia dari kalangan Arab atau mawali?' Az-Zuhri selalu menjawab: 'Dari kalangan mawali.' Ketika selesai, Hisyam berkata: 'Wahai Zuhri, demi Allah, sungguh kaum mawali akan memimpin bangsa Arab, hingga khutbah disampaikan untuk mereka di atas mimbar-mimbar sedangkan orang Arab berada di bawahnya.' Aku (Az-Zuhri) berkata: 'Wahai Amirul Mukminin, ini semata-mata urusan Allah dan agama-Nya - siapa yang menjaganya, ia akan memimpin, dan siapa yang menyia-nyiakannya, ia akan jatuh.'"
" قُلْتُ ": وَسَأَلَ بَعْضُ الْأَعْرَابِ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْبَصْرَةِ، فَقَالَ: مَنْ هُوَ سَيِّدُ هَذِهِ الْبَلْدَةِ؟ قَالَ: الْحَسَنُ بْنُ أَبِي الْحَسَنِ الْبَصْرِيُّ، قَالَ: أَمَوْلًى هُوَ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَبِمَ سَادَهُمْ؟ فَقَالَ: بِحَاجَتِهِمْ إِلَى عِلْمِهِ وَعَدَمِ احْتِيَاجِهِ إِلَى دُنْيَاهُمْ، فَقَالَ الْأَعْرَابِيُّ: هَذَا لَعَمْرُ أَبِيكَ هُوَ السُّؤْدَدُ
"Aku (Ibnu Katsir) berkata: Seorang Arab badui pernah bertanya kepada seorang laki-laki dari penduduk Bashrah: 'Siapakah pemuka negeri ini?' Ia menjawab: 'Al-Hasan bin Abil Hasan Al-Bashri.' Orang badui itu bertanya: 'Apakah ia seorang maula?' Ia menjawab: 'Ya.' Orang badui itu bertanya lagi: 'Lalu dengan apa ia memimpin mereka?' Ia menjawab: 'Karena mereka membutuhkan ilmunya, sementara ia sendiri tidak membutuhkan dunia mereka.' Maka orang badui itu berkata: 'Demi umur ayahmu, inilah yang sesungguhnya disebut kepemimpinan sejati (as-su'dud).'"