An-Naw' As-Sabi' 'Asyar: Fi Ziyadatits Tsiqah
إِذَا تَفَرَّدَ الرَّاوِي بِزِيَادَةٍ فِي الْحَدِيثِ عَنْ بَقِيَّةِ الرُّوَاةِ عَنْ شَيْخٍ لَهُمْ، وَهَذَا الَّذِي يُعَبَّرُ عَنْهُ بِزِيَادَةِ الثِّقَةِ، فَهَلْ هِيَ مَقْبُولَةٌ أَمْ لَا؟ فِيهِ خِلَافٌ مَشْهُورٌ: فَحَكَى الْخَطِيبُ عَنْ أَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ قَبُولَهَا، وَرَدَّهَا أَكْثَرُ الْمُحَدِّثِينَ
"Jika seorang perawi menyendiri dengan sebuah tambahan dalam hadits, berbeda dari perawi-perawi lain yang meriwayatkan dari guru yang sama, dan inilah yang diistilahkan dengan ziyadatuts-tsiqah (tambahan dari perawi tsiqah) - apakah ia diterima atau tidak? Dalam hal ini ada perselisihan yang masyhur: Al-Khathib meriwayatkan bahwa mayoritas fuqaha menerimanya, sedangkan mayoritas muhaddits menolaknya."
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ قَالَ: إِنِ اتَّحَدَ مَجْلِسُ السَّمَاعِ لَمْ تُقْبَلْ، وَإِنْ تَعَدَّدَ قُبِلَتْ
"Sebagian orang berpendapat: jika majelis mendengarnya satu, tambahan itu tidak diterima; namun jika majelisnya lebih dari satu, ia diterima."
وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: تُقْبَلُ الزِّيَادَةُ إِذَا كَانَتْ مِنْ غَيْرِ الرَّاوِي، بِخِلَافِ مَا إِذَا نَشِطَ فَرَوَاهَا تَارَةً وَأَسْقَطَهَا أُخْرَى
"Sebagian lagi berpendapat: tambahan itu diterima jika datang dari perawi yang berbeda, berbeda halnya jika perawi yang sama terkadang bersemangat meriwayatkannya dan terkadang meninggalkannya."
وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: إِنْ كَانَتْ مُخَالِفَةً فِي الْحُكْمِ لِمَا رَوَاهُ الْبَاقُونَ لَمْ تُقْبَلْ، وَإِلَّا قُبِلَتْ، كَمَا لَوْ تَفَرَّدَ بِالْحَدِيثِ كُلِّهِ، فَإِنَّهُ يُقْبَلُ تَفَرُّدُهُ بِهِ إِذَا كَانَ ثِقَةً ضَابِطًا أَوْ حَافِظًا. وَقَدْ حَكَى الْخَطِيبُ عَلَى ذَلِكَ الْإِجْمَاعَ
"Sebagian lagi berpendapat: jika tambahan itu bertentangan dalam hukum dengan apa yang diriwayatkan perawi-perawi lainnya, ia tidak diterima; jika tidak bertentangan, ia diterima - sebagaimana halnya jika seorang perawi menyendiri meriwayatkan hadits itu secara keseluruhan, maka penyendiriannya itu diterima selama ia tsiqah, dhabith, atau hafizh. Al-Khathib meriwayatkan adanya ijma' (kesepakatan) atas hal ini."
Asy-Syaikh Abu 'Amr (Ibnu Shalah) mencontohkan ziyadatuts-tsiqah dengan hadits Malik, dari Nafi', dari Ibnu Umar:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ مِنْ رَمَضَانَ، عَلَى كُلِّ حُرٍّ أَوْ عَبْدٍ، ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى، مِنَ الْمُسْلِمِينَ
"Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mewajibkan zakat fitri dari bulan Ramadhan atas setiap orang merdeka atau budak, laki-laki atau perempuan, dari kalangan muslimin." (HR. Malik, dari Nafi', dari Ibnu Umar)
فَقَوْلُهُ: " مِنَ الْمُسْلِمِينَ " مِنْ زِيَادَاتِ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ. وَقَدْ زَعَمَ التِّرْمِذِيُّ أَنَّ مَالِكًا تَفَرَّدَ بِهَا، وَسَكَتَ أَبُو عَمْرٍو عَلَى ذَلِكَ. وَلَمْ يَتَفَرَّدْ بِهَا مَالِكٌ. فَقَدْ رَوَاهَا مُسْلِمٌ مِنْ طَرِيقِ الضَّحَّاكِ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ نَافِعٍ، كَمَا رَوَاهَا مَالِكٌ، وَكَذَلِكَ رَوَاهَا الْبُخَارِيُّ وَأَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ مِنْ طَرِيقِ عُمَرَ بْنِ نَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ، كَمَالِكٍ
"Maka perkataan 'min al-muslimin' (dari kalangan muslim) termasuk tambahan Malik dari Nafi'. At-Tirmidzi menduga bahwa Malik menyendiri dengan tambahan ini, dan Abu 'Amr diam saja atas dugaan tersebut. Padahal Malik tidak menyendiri dengannya - Muslim meriwayatkannya dari jalur Adh-Dhahhak bin 'Utsman dari Nafi', sama seperti riwayat Malik, demikian pula Al-Bukhari, Abu Dawud, dan An-Nasa'i meriwayatkannya dari jalur 'Umar bin Nafi' dari ayahnya, sama seperti riwayat Malik."
Ibnu Shalah berkata, di antara contoh lainnya adalah hadits:
جُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا
"Bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan alat bersuci." - Abu Malik Sa'd bin Thariq Al-Asyja'i menyendiri dengan tambahan " وَتُرْبَتُهَا طَهُورًا " ("dan debunya sebagai alat bersuci"), dari Rib'i bin Hirasy, dari Hudzaifah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam (HR. Muslim, Ibnu Khuzaimah, dan Abu 'Awanah Al-Isfarayini dalam kitab-kitab shahih mereka, dari haditsnya)
وَذَكَرَ أَنَّ الْخِلَافَ فِي الْوَصْلِ وَالْإِرْسَالِ، كَالْخِلَافِ فِي قَبُولِ زِيَادَةِ الثِّقَةِ
"Dan disebutkan bahwa perselisihan dalam masalah washl (bersambungnya sanad) dan irsal (terputusnya sanad di tingkat sahabat) itu sama seperti perselisihan dalam menerima ziyadatuts-tsiqah."