An-Naw' Al-Hadi 'Asyar: Al-Mu'dhal
وَهُوَ مَا سَقَطَ مِنْ إِسْنَادِهِ اثْنَانِ فَصَاعِدًا وَمِنْهُ مَا يُرْسِلُهُ تَابِعُ التَّابِعِيِّ
"Ia (mu'dhal) adalah hadits yang gugur dari sanadnya dua orang perawi atau lebih secara berurutan. Termasuk di dalamnya, apa yang di-irsal-kan oleh tabi'ut tabi'in (generasi sesudah tabi'in)."
قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَمِنْهُ قَوْلُ الْمُصَنِّفِينَ مِنَ الْفُقَهَاءِ: " قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ". وَقَدْ سَمَّاهُ الْخَطِيبُ فِي بَعْضِ مُصَنَّفَاتِهِ " مُرْسَلًا "، وَذَلِكَ عَلَى مَذْهَبِ مَنْ يُسَمِّي كُلَّ مَا لَا يَتَّصِلُ إِسْنَادُهُ " مُرْسَلًا "
"Ibnu Shalah berkata: Termasuk contohnya adalah ucapan para penulis kitab fiqih: 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda...' (tanpa sanad sama sekali). Al-Khathib dalam sebagian karyanya menamai ini juga sebagai 'mursal', sesuai madzhab orang yang menamai setiap sanad yang tidak bersambung dengan istilah 'mursal'."
قَالَ ابْنُ الصَّلَاحِ: وَقَدْ رَوَى الْأَعْمَشُ عَنِ الشَّعْبِيِّ قَالَ: " وَيُقَالُ لِلرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا؛ فَيَقُولُ: لَا، فَيُخْتَمُ عَلَى فِيهِ "، الْحَدِيثَ، قَالَ: فَقَدْ أَعْضَلَهُ الْأَعْمَشُ، لِأَنَّ الشَّعْبِيَّ يَرْوِيهِ عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: فَقَدْ أَسْقَطَ مِنْهُ الْأَ...
"Ibnu Shalah berkata: Al-A'masy meriwayatkan dari Asy-Sya'bi, ia berkata: 'Dan akan dikatakan kepada seseorang di hari kiamat: Engkau telah melakukan ini dan itu; lalu ia berkata: Tidak; maka dikuncilah mulutnya.' Dan seterusnya. Beliau berkata: Al-A'masy telah meng-i'dhal-kan hadits ini, sebab Asy-Sya'bi sendiri meriwayatkannya dari Anas, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau berkata: Maka Al-A'masy telah menggugurkan darinya (dua perawi:)..." (kalimat terpotong di batas halaman sumber - yakni Asy-Sya'bi dan Anas sekaligus)
قَالَ: وَقَدْ حَاوَلَ بَعْضُهُمْ أَنْ يُطْلِقَ عَلَى الْإِسْنَادِ الْمُعَنْعَنِ اسْمَ " الْإِرْسَالِ " أَوِ " الِانْقِطَاعِ "
"Beliau berkata: Sebagian ulama pernah mencoba menyematkan istilah 'irsal' atau 'inqitha'' pada sanad yang mu'an'an (memakai lafal 'an fulan, dari fulan)."
قَالَ: وَالصَّحِيحُ الَّذِي عَلَيْهِ الْعَمَلُ: أَنَّهُ مُتَّصِلٌ مَحْمُولٌ عَلَى السَّمَاعِ، إِذَا تَعَاصَرُوا، مَعَ الْبَرَاءَةِ مِنْ وَصْمَةِ التَّدْلِيسِ
"Beliau berkata: Yang shahih dan menjadi pegangan amal adalah: sanad mu'an'an dihukumi muttashil, dibawa kepada makna 'pernah mendengar', selama kedua perawi itu sezaman, dan bersih dari cacat tadlis."
وَقَدِ ادَّعَى الشَّيْخُ أَبُو عَمْرٍو وَالدَّانِي الْمُقْرِئُ إِجْمَاعَ أَهْلِ النَّقْلِ عَلَى ذَلِكَ، وَكَادَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ أَنْ يَدَّعِيَ ذَلِكَ أَيْضًا
"Asy-Syaikh Abu 'Amr (Ibnu Shalah) dan Ad-Dani Al-Muqri' mengklaim adanya ijma' ahli periwayatan atas hal itu, dan Ibnu 'Abdil Barr hampir pula mengklaim demikian."
" قُلْتُ ": وَهَذَا هُوَ الَّذِي اعْتَمَدَهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ: وَشَنَّعَ فِي خُطْبَتِهِ عَلَى مَنْ يَشْتَرِطُ مَعَ الْمُعَاصَرَةِ اللُّقِيَّ، حَتَّى قِيلَ: إِنَّهُ يُرِيدُ الْبُخَارِيَّ، وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يُرِيدُ عَلِيَّ بْنَ الْمَدِينِيِّ، فَإِنَّهُ يَشْتَرِطُ ذَلِكَ فِي أَصْلِ صِحَّةِ الْحَدِيثِ، وَأَمَّا الْبُخَارِيُّ فَإِنَّهُ لَا يَشْتَرِطُهُ فِي أَ...
"Aku berkata: Inilah yang dijadikan pegangan Muslim dalam Shahih-nya, dan beliau mencela dalam mukadimahnya orang yang mensyaratkan pertemuan langsung (liqa') selain sezaman. Sampai dikatakan bahwa yang beliau maksud adalah Al-Bukhari, padahal yang tampak jelas adalah beliau memaksudkan 'Ali bin Al-Madini, sebab dialah yang mensyaratkan hal itu untuk pokok kesahihan hadits. Adapun Al-Bukhari, beliau tidak mensyaratkannya untuk..." (kalimat terpotong di batas halaman sumber)
وَقَدِ اخْتَلَفَ الْأَئِمَّةُ فِيمَا إِذَا قَالَ الرَّاوِي: " أَنَّ فُلَانًا قَالَ "، هَلْ هُوَ مِثْلُ قَوْلِهِ: " عَنْ فُلَانٍ "، فَيَكُونُ مَحْمُولًا عَلَى الِاتِّصَالِ، حَتَّى يَثْبُتَ خِلَافُهُ؟ أَوْ يَكُونُ قَوْلُهُ " أَنَّ فُلَانًا قَالَ " دُونَ قَوْلِهِ: " عَنْ فُلَانٍ "؟ كَمَا فَرَّقَ بَيْنَهُمَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَيَعْقُوبُ بْنُ ...
"Para imam berselisih pendapat mengenai ucapan perawi 'bahwa Fulan berkata': apakah statusnya sama seperti ucapan 'dari Fulan', sehingga dibawa kepada makna bersambung sampai terbukti sebaliknya? Ataukah ucapan 'bahwa Fulan berkata' derajatnya di bawah ucapan 'dari Fulan'? Sebagaimana dibedakan oleh Ahmad bin Hanbal dan Ya'qub bin..." (nama terpotong di batas halaman sumber, kemungkinan Ya'qub bin Syaibah)
فُلَانًا قَالَ كَذَا " فِي حُكْمِ الِانْقِطَاعِ حَتَّى يَثْبُتَ خِلَافُهُ. وَذَهَبَ الْجُمْهُورُ إِلَى أَنَّهُمَا سَوَاءٌ فِي كَوْنِهِمَا مُتَّصِلَيْنِ، قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ. وَمِمَّنْ نَصَّ عَلَى ذَلِكَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ
"...(Ya'qub bin Syaibah, yang menempatkan) 'Fulan berkata demikian' berstatus hukum terputus (inqitha') sampai terbukti sebaliknya. Sedangkan jumhur berpendapat keduanya sama-sama dihukumi muttashil - demikian kata Ibnu 'Abdil Barr. Di antara yang menegaskan hal itu adalah Malik bin Anas."
وَقَدْ حَكَى ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ الْإِجْمَاعَ عَلَى أَنَّ الْإِسْنَادَ الْمُتَّصِلَ بِالصَّحَابِيِّ، سَوَاءٌ فِيهِ أَنْ يَقُولَ " عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "، أَوْ " قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " أَوْ " سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "
"Ibnu 'Abdil Barr menukilkan ijma' bahwa sanad yang bersambung sampai sahabat, sama saja apakah sahabat itu berkata 'dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam', atau 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda', atau 'aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam' - semuanya dihukumi sama (bersambung)."
وَبَحَثَ الشَّيْخُ أَبُو عَمْرٍو هَهُنَا إِذَا أَسْنَدَ الرَّاوِي مَا أَرْسَلَهُ غَيْرُهُ، فَمِنْهُمْ مَنْ قَدَحَ فِي عَدَالَتِهِ بِسَبَبِ ذَلِكَ، إِذَا كَانَ الْمُخَالِفُ لَهُ أَحْفَظَ مِنْهُ أَوْ أَكْثَرَ عَدَدًا، وَمِنْهُمْ مَنْ رَجَّحَ بِالْكَثْرَةِ أَوِ الْحِفْظِ، وَمِنْهُمْ مَنْ قَبِلَ الْمُسْنَدَ مُطْلَقًا، إِذَا كَانَ عَدْلًا ضَابِطًا. وَصَحَّحَهُ ا...
"Asy-Syaikh Abu 'Amr membahas di sini: apabila seorang perawi mengisnadkan (menyebutkan sanad lengkap untuk) sesuatu yang oleh perawi lain di-irsal-kan (tanpa sanad lengkap), maka sebagian ulama mencela keadilannya karena hal itu, jika pihak yang menyelisihinya lebih kuat hafalannya atau lebih banyak jumlahnya. Sebagian lain mengunggulkan berdasarkan banyaknya jumlah atau kekuatan hafalan. Sebagian lagi menerima riwayat yang musnad (bersanad lengkap) secara mutlak, selama perawinya 'adil lagi dhabith. Dan (pendapat inilah yang) dishahihkan oleh..." (kalimat terpotong di batas halaman sumber, naw' berikutnya dimulai setelah ini)