Bab ini menutup trio bentuk keterputusan sanad dengan yang paling berat: kehilangan bukan satu, tapi dua mata rantai sekaligus secara berurutan.
Al-Mu'dhal
Alfiyah al-'Iraqi mendefinisikan al-mu'dhal dalam dua bait berikut, sekaligus menyebutkan bentuk keduanya:
حَذْفُ النَّبِيِّ وَالصَّحَابِيِّ مَعَا ... وَوَقْفُ مَتْنِهِ عَلَى مَنْ تَبِعَ
"Al-mu'dhal adalah (sanad) yang gugur darinya dua rawi atau lebih secara berurutan. Ada juga jenis kedua darinya: terhapusnya (penyebutan) Nabi dan sahabat sekaligus, dengan matannya di-mawquf-kan pada tabi'in yang meriwayatkannya." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 134-135, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 1 hlm. 195)
Bait kedua ini menunjukkan bentuk mu'dhal yang agak berbeda dari sekadar "dua rawi hilang berurutan": ketika sebuah matan yang aslinya berasal dari Nabi justru disampaikan seolah-olah cuma perkataan tabi'in (di-mawquf-kan), padahal mata rantai yang menghubungkannya ke Nabi dan sahabat sama-sama terhapus. Bentuk ini juga terhitung mu'dhal karena dua mata rantai (Nabi dan sahabat) sama-sama hilang sekaligus.
Al-mu'dhal adalah sanad yang kehilangan dua rawi atau lebih secara berurutan (berturut-turut, tidak terpisah) di satu titik.1 Ini yang membedakannya dari munqathi' biasa yang dibahas di bab sebelumnya (yang hanya kehilangan satu rawi, atau kehilangan lebih dari satu rawi tapi di titik-titik yang terpisah, bukan berurutan). Contoh klasik yang sering disebutkan ulama adalah ketika seorang penulis kitab meriwayatkan langsung dari seorang imam besar yang wafat jauh sebelum masa hidupnya, melompati dua generasi rawi sekaligus.
Karena kehilangan dua mata rantai berurutan berarti kehilangan lebih banyak informasi tentang siapa sebenarnya yang menyampaikan riwayat itu, al-mu'dhal umumnya dinilai sebagai cacat yang lebih berat dibanding munqathi' biasa yang hanya kehilangan satu rawi.
Kenapa Membedakan Ketiga Bentuk Keterputusan Ini Penting
Perbedaan mursal, munqathi', dan mu'dhal bukan sekadar variasi istilah untuk hal yang sama. Setiap kategori punya titik keterputusan yang berbeda (mursal spesifik di level sahabat, munqathi' bisa di titik mana pun untuk satu rawi, mu'dhal di titik mana pun untuk dua rawi berurutan), tingkat keparahan cacat yang berbeda (semakin banyak mata rantai yang hilang secara berurutan, semakin sulit memverifikasi keabsahan riwayat tersebut), dan perlakuan ulama yang berbeda (mursal punya ruang perdebatan khusus soal hujjiyyahnya yang tidak berlaku sama untuk munqathi' atau mu'dhal biasa).
Ketiganya sama-sama termasuk cabang dari al-hadits adh-dha'if secara umum (karena sama-sama gagal memenuhi syarat ittishalus sanad), tapi memahami jenis spesifiknya membantu kamu menilai seberapa besar celah informasi yang hilang, dan seberapa hati-hati riwayat itu perlu diperlakukan.
Bab selanjutnya membahas satu jenis cacat sanad yang berbeda karakternya - bukan soal mata rantai yang hilang, tapi soal rawi yang menyembunyikan cacat dalam periwayatannya: at-tadlis.
Catatan & Referensi
Definisi al-mu'dhal sebagai sanad yang kehilangan dua rawi atau lebih secara berurutan dirumuskan Ibnu Shalah dalam Muqaddimah-nya dan dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits.
↩