An-Naw' Al-Hadi wa-Sittin: Ma'rifatuts-Tsiqat wadh-Dhu'afa' minar-Ruwat wa Ghairihim
وَهَذَا الْفَنُّ مِنْ أَهَمِّ الْعُلُومِ وَأَعْلَامِهَا وَأَنْفَعِهَا، إِذْ أَنَّهُ تُعْرَفُ صِحَّةُ سَنَدِ الْحَدِيثِ مِنْ ضَعْفِهِ
"Cabang ilmu ini termasuk ilmu yang paling penting, paling menonjol, dan paling bermanfaat, karena dengannyalah diketahui keshahihan sanad sebuah hadits dari kedhaifannya."
وَقَدْ صَنَّفَ النَّاسُ فِي ذَلِكَ قَدِيمًا وَحَدِيثًا كُتُبًا كَثِيرَةً: مِنْ أَنْفَعِهَا كِتَابُ ابْنِ أَبِي حَاتِمٍ. وَلِابْنِ حِبَّانَ كِتَابَانِ نَافِعَانِ: أَحَدُهُمَا فِي الثِّقَاتِ، وَالْآخَرُ فِي الضُّعَفَاءِ. وَكِتَابُ الْكَامِلِ لِابْنِ عَدِيٍّ
"Para ulama, baik dahulu maupun sekarang, telah menyusun banyak kitab dalam bidang ini. Di antara yang paling bermanfaat adalah kitab Ibnu Abi Hatim. Ibnu Hibban juga memiliki dua kitab yang bermanfaat: satu tentang perawi-perawi tsiqat, dan satunya lagi tentang perawi-perawi dhu'afa'. Juga kitab Al-Kamil karya Ibnu 'Adi."
وَالتَّوَارِيخُ الْمَشْهُورَةُ، وَمِنْ أَجَلِّهَا: تَارِيخُ بَغْدَادَ لِلْحَافِظِ أَبِي بَكْرٍ أَحْمَدَ بْنِ عَلِيٍّ الْخَطِيبِ: وَتَارِيخُ دِمَشْقَ لِلْحَافِظِ أَبِي الْقَاسِمِ بْنِ عَسَاكِرَ. وَتَهْذِيبُ شَيْخِنَا الْحَافِظِ أَبِي الْحَجَّاجِ الْمِزِّيِّ. وَمِيزَانُ شَيْخِنَا الْحَافِظِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الذَّهَبِيِّ
"Juga kitab-kitab tarikh yang masyhur, dan di antara yang paling agung adalah: Tarikh Baghdad karya Al-Hafizh Abu Bakr Ahmad bin 'Ali Al-Khathib; Tarikh Dimasyq karya Al-Hafizh Abul Qasim Ibnu 'Asakir; At-Tahdzib karya guru kami, Al-Hafizh Abul Hajjaj Al-Mizzi; dan Al-Mizan karya guru kami, Al-Hafizh Abu 'Abdillah Adz-Dzahabi."
وَقَدْ جَمَعْتُ بَيْنَهُمَا. وَزِدْتُ فِي تَحْرِيرِ الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ عَلَيْهِمَا، فِي كِتَابٍ، وَسَمَّيْتُهُ " التَّكْمِيلَ فِي مَعْرِفَةِ الثِّقَاتِ وَالضُّعَفَاءِ وَالْمَجَاهِيلِ ". وَهُوَ مِنْ أَنْفَعِ شَيْءٍ لِلْفَقِيهِ الْبَارِعِ، وَكَذَلِكَ لِلْمُحَدِّثِ
"Aku (Ibnu Katsir) telah menggabungkan antara keduanya (Tahdzib Al-Mizzi dan Mizan Adz-Dzahabi), dan menambahkan penelaahan jarh wat-ta'dil atas keduanya, dalam sebuah kitab yang kunamakan 'At-Takmil fi Ma'rifatits Tsiqat wadh-Dhu'afa' wal-Majahil'. Kitab ini termasuk yang paling bermanfaat bagi seorang faqih yang mahir, begitu pula bagi seorang muhaddits."
Membicarakan Cacat Perawi adalah Nasihat, Bukan Ghibah
وَلَيْسَ الْكَلَامُ فِي جَرْحِ الرِّجَالِ عَلَى وَجْهِ النَّصِيحَةِ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِكِتَابِهِ وَالْمُؤْمِنِينَ: بِغِيبَةٍ، بَلْ يُثَابُ بِتَعَاطِي ذَلِكَ إِذَا قُصِدَ بِهِ ذَلِكَ
"Membicarakan jarh (cacat) para perawi, apabila dilakukan sebagai bentuk nasihat karena Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, dan kaum mukminin, bukanlah ghibah - bahkan pelakunya diberi pahala atas hal itu, jika ia meniatkannya demikian."
وَقَدْ قِيلَ لِيَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقَطَّانِ: أَمَا تَخْشَى أَنْ يَكُونَ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ تَرَكْتَ حَدِيثَهُمْ خُصَمَاءَكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ؟ قَالَ: لَأَنْ يَكُونَ هَؤُلَاءِ خُصَمَائِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ يَكُونَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَصْمِي يَوْمَئِذٍ، يَقُولُ لِي: لِمَ لَمْ تَذُبَّ الْكَذِبَ عَنْ حَدِيثِي؟
"Pernah dikatakan kepada Yahya bin Sa'id Al-Qaththan: 'Tidakkah engkau khawatir orang-orang yang engkau tinggalkan haditsnya itu akan menjadi musuhmu di hari kiamat?' Ia menjawab: 'Sungguh, mereka menjadi musuhku (di dunia karena aku men-jarh mereka) lebih aku sukai daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjadi musuhku pada hari itu, yang berkata kepadaku: Mengapa engkau tidak membela hadits-haditsku dari kedustaan?'"
وَقَدْ سَمِعَ أَبُو تُرَابٍ النَّخْشَبِيُّ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ وَهُوَ يَتَكَلَّمُ فِي بَعْضِ الرُّوَاةِ فَقَالَ لَهُ: أَتَغْتَابُ الْعُلَمَاءَ؟! فَقَالَ لَهُ: وَيْحَكَ! هَذَا نَصِيحَةٌ، لَيْسَ هَذَا غِيبَةً
"Abu Turab An-Nakhsyabi pernah mendengar Ahmad bin Hanbal sedang membicarakan (jarh) sebagian perawi, lalu ia berkata kepadanya: 'Apakah engkau sedang meng-ghibah para ulama?!' Maka Ahmad menjawabnya: 'Celakalah engkau! Ini adalah nasihat, bukan ghibah.'"
وَيُقَالُ: إِنَّ أَوَّلَ مَنْ تَصَدَّى لِلْكَلَامِ فِي الرُّوَاةِ شُعْبَةُ بْنُ الْحَجَّاجِ، وَتَبِعَهُ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ، ثُمَّ تَلَامِذَتُهُ: أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، وَعَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ، وَيَحْيَى بْنُ مَعِينٍ، وَعَمْرُو بْنُ الْفَلَّاسِ، وَغَيْرُهُمْ
"Dikatakan: bahwa orang pertama yang menekuni pembicaraan tentang cacat para perawi adalah Syu'bah bin Al-Hajjaj, kemudian diikuti oleh Yahya bin Sa'id Al-Qaththan, lalu murid-muridnya: Ahmad bin Hanbal, 'Ali bin Al-Madini, Yahya bin Ma'in, 'Amr bin Al-Fallas, dan yang lainnya."
وَقَدْ تَكَلَّمَ فِي ذَلِكَ مَالِكٌ، وَهِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ، وَجَمَاعَةٌ مِنَ السَّلَفِ
"Malik, Hisyam bin 'Urwah, dan sekelompok ulama salaf lainnya juga telah berbicara dalam bidang ini."
وَقَدْ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: " الدِّينُ النَّصِيحَةُ "
"Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Agama itu adalah nasihat.'"
وَقَدْ تَكَلَّمَ بَعْضُهُمْ فِي غَيْرِهِ فَلَمْ يُعْتَبَرْ، لِمَا بَيْنَهُمَا مِنَ الْعَدَاوَةِ الْمَعْلُومَةِ
"Terkadang sebagian ulama membicarakan (jarh) terhadap ulama lain, namun ucapannya tidak dianggap, karena diketahui adanya permusuhan pribadi di antara keduanya."
وَقَدْ ذَكَرْنَا مِنْ أَمْثِلَةِ ذَلِكَ: كَلَامَ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ فِي الْإِمَامِ مَالِكٍ، وَكَذَا كَلَامَ مَالِكٍ فِيهِ، وَقَدْ وَسَّعَ السُّهَيْلِيُّ الْقَوْلَ فِي ذَلِكَ، وَكَذَلِكَ كَلَامَ النَّسَائِيِّ فِي أَحْمَدَ بْنِ صَالِحٍ الْمِصْرِيِّ حِينَ مَنَعَهُ مِنْ حُضُورِ مَجْلِسِهِ
"Kami telah menyebutkan di antara contoh hal itu: ucapan (jarh) Muhammad bin Ishaq terhadap Al-Imam Malik, dan begitu pula ucapan Malik terhadapnya - As-Suhaili telah membahas panjang lebar hal ini. Begitu pula ucapan (jarh) An-Nasa'i terhadap Ahmad bin Shalih Al-Mishri, ketika ia (Ahmad bin Shalih) melarangnya menghadiri majelisnya."