Ikhtishar 'Ulumil Hadits Bab 23: Al-Maqlub

Tasbih, ilustrasi untuk artikel "Ikhtishar 'Ulumil Hadits Bab 23: Al-Maqlub"

An-Naw' Ats-Tsani wal 'Isyrun: Al-Maqlub

وَقَدْ يَكُونُ فِي الْإِسْنَادِ كُلِّهِ أَوْ بَعْضِهِ

"Ia (al-maqlub) bisa terjadi pada seluruh sanad, atau hanya pada sebagiannya."

فَالْأَوَّلُ: كَمَا رَكَّبَ مَهَرَةُ مُحَدِّثِي بَغْدَادَ لِلْبُخَارِيِّ، حِينَ قَدِمَ عَلَيْهِمْ، إِسْنَادَ هَذَا الْحَدِيثِ عَلَى مَتْنٍ آخَرَ، وَرَكَّبُوا مَتْنَ هَذَا الْحَدِيثِ عَلَى إِسْنَادٍ آخَرَ، وَقَلَبُوا عَلَيْهِ مَا هُوَ مِنْ حَدِيثِ سَالِمٍ: عَنْ نَافِعٍ، وَمَا هُوَ مِنْ حَدِيثِ نَافِعٍ: عَنْ سَالِمٍ، وَهُوَ مِنَ الْقَبِيلِ الثَّانِي، وَصَنَعُوا ذَلِكَ فِي نَحْوِ مِائَةِ حَدِيثٍ أَوْ أَزْيَدَ، فَلَمَّا قَرَأَهَا رَدَّ كُلَّ حَدِيثٍ إِلَى إِسْنَادِهِ، وَكُلَّ إِسْنَادٍ إِلَى مَتْنِهِ، وَلَمْ يَرُجْ عَلَيْهِ مَوْضِعٌ وَاحِدٌ مِمَّا

"Adapun yang pertama (maqlub pada seluruh sanad): sebagaimana para pakar muhaddits Baghdad merekayasa untuk Al-Bukhari, ketika beliau datang kepada mereka - mereka memasangkan sanad suatu hadits pada matan hadits yang lain, dan memasangkan matan hadits ini pada sanad yang lain, serta membalik apa yang sebenarnya dari hadits Salim: dari Nafi', menjadi seolah-olah dari hadits Nafi': dari Salim - dan ini termasuk jenis yang kedua (maqlub sebagian). Mereka melakukan hal itu pada sekitar seratus hadits atau lebih. Maka ketika Al-Bukhari membacakannya, beliau mengembalikan setiap hadits kepada sanadnya yang benar, dan setiap sanad kepada matannya yang benar, dan tidak satu pun tempat dari apa yang..."

قَلَبُوهُ وَرَكَّبُوهُ، فَعَظُمَ عِنْدَهُمْ جِدًّا، وَعَرَفُوا مَنْزِلَتَهُ مِنْ هَذَا الشَّأْنِ، فَرَحِمَهُ اللَّهُ وَأَكْرَمَ مَثْوَاهُ

"...mereka balik dan mereka rekayasa itu, berhasil mengelabuinya. Maka kedudukan beliau pun menjadi sangat agung di mata mereka, dan mereka pun mengetahui kedudukan beliau dalam bidang ilmu ini. Semoga Allah merahmatinya dan memuliakan tempat kembalinya."

وَقَدْ نَبَّهَ الشَّيْخُ أَبُو عَمْرٍو هَهُنَا عَلَى أَنَّهُ لَا يَلْزَمُ مِنَ الْحُكْمِ بِضَعْفِ سَنَدِ الْحَدِيثِ الْمُعَيَّنِ الْحُكْمُ بِضَعْفِهِ فِي نَفْسِهِ، إِذْ قَدْ يَكُونُ لَهُ إِسْنَادٌ آخَرُ، إِلَّا أَنْ يَنُصَّ إِمَامٌ عَلَى أَنَّهُ لَا يُرْوَى إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

"Asy-Syaikh Abu 'Amr (Ibnu Shalah) mengingatkan di sini bahwa menghukumi lemahnya sanad tertentu dari suatu hadits tidak mesti berarti hadits itu sendiri lemah, sebab bisa jadi hadits itu memiliki sanad lain - kecuali jika seorang imam menegaskan bahwa hadits itu tidak diriwayatkan kecuali dari jalur tersebut saja."

" قُلْتُ " : يَكْفِي فِي الْمُنَاظَرَةِ تَضْعِيفُ الطَّرِيقِ الَّتِي أَبْدَاهَا الْمُنَاظِرُ، وَيَنْقَطِعُ، إِذِ الْأَصْلُ عَدَمُ مَا سِوَاهَا، حَتَّى يَثْبُتَ بِطَرِيقٍ أُخْرَى. وَاللَّهُ أَعْلَمُ

"'Aku (Ibnu Katsir) berkata': Dalam sebuah munazharah (perdebatan ilmiah), cukup dengan melemahkan jalur yang dikemukakan lawan debat, maka argumennya pun terputus, karena hukum asalnya adalah tidak adanya jalur-jalur lain, sampai terbukti adanya jalur lain. Wallahu a'lam."

قَالَ: وَيَجُوزُ رِوَايَةُ مَا عَدَا الْمَوْضُوعَ فِي بَابِ التَّرْغِيبِ وَالتَّرْهِيبِ، وَالْقَصَصِ وَالْمَوَاعِظِ، وَنَحْوِ ذَلِكَ، إِلَّا فِي صِفَاتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَفِي بَابِ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ

"Beliau (Ibnu Shalah) berkata: Boleh meriwayatkan hadits selain yang maudhu' dalam bab targhib dan tarhib, kisah-kisah, dan nasihat, serta semisalnya - kecuali dalam masalah sifat-sifat Allah 'azza wa jalla, dan dalam bab halal-haram."

قَالَ: وَمِمَّنْ يُرَخِّصُ فِي رِوَايَةِ الضَّعِيفِ - فِيمَا ذَكَرْنَاهُ - ابْنُ مَهْدِيٍّ، وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، رَحِمَهُمَا اللَّهُ

"Beliau berkata: Di antara yang memberi keringanan dalam meriwayatkan hadits dha'if - dalam hal yang telah kami sebutkan - adalah Ibnu Mahdi dan Ahmad bin Hanbal, semoga Allah merahmati keduanya."

قَالَ: وَإِذَا عَزَوْتَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ غَيْرِ إِسْنَادٍ فَلَا تَقُلْ: " قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا وَكَذَا " ، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ مِنَ الْأَلْفَاظِ الْجَازِمَةِ، بَلْ بِصِيغَةِ التَّمْرِيضِ، وَكَذَا فِيمَا يُشَكُّ فِي صِحَّتِهِ أَيْضًا

"Beliau berkata: Dan jika engkau menyandarkan suatu hadits kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tanpa menyebutkan sanad, maka janganlah engkau berkata: 'Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda demikian dan demikian,' atau ungkapan tegas (jazm) semisalnya - melainkan gunakanlah shighah tamridh (ungkapan yang menunjukkan keraguan, seperti 'diriwayatkan bahwa...'). Demikian pula untuk hadits yang diragukan keshahihannya."

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email