Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 35: An-Nasikh wal-Mansukh

Langit-langit interior masjid, ilustrasi untuk artikel "Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 35: An-Nasikh wal-Mansukh"

النَّوْعُ الرَّابِعُ وَالثَّلَاثُونَ: مَعْرِفَةُ نَاسِخِ الْحَدِيثِ وَمَنْسُوخِهِ
"Anwa' ketiga puluh empat: mengenal nasikh dan mansukh hadits."1

هَذَا فَنٌّ مُهِمٌّ مُسْتَصْعَبٌ.
"Ini adalah disiplin ilmu yang penting lagi sulit."
رُوِّينَا ... عَنِ الزُّهْرِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - أَنَّهُ قَالَ: "أَعْيَا الْفُقَهَاءَ وَأَعْجَزَهُمْ أَنْ يَعْرِفُوا نَاسِخَ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مِنْ مَنْسُوخِهِ" ... .
"Kami meriwayatkan dari az-Zuhri radhiyallahu 'anhu, bahwa ia berkata: 'para fuqaha kepayahan dan tidak mampu mengetahui mana yang nasikh (menghapus) dan mana yang mansukh (dihapus) dari hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam' ..."
وَكَانَ لِلشَّافِعِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - فِيهِ يَدٌ طُولَى وَسَابِقَةٌ أُولَى.
"Asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu memiliki keahlian yang tinggi dan menjadi perintis pertama dalam disiplin ini."
رُوِّينَا عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمِ بْنِ وَارَةَ، أَحَدِ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ أَنَّ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ قَالَ لَهُ، وَقَدْ قَدِمَ مِنْ مِصْرَ: "كَتَبْتَ كُتُبَ الشَّافِعِيِّ؟" فَقَالَ: لَا، قَالَ: "فَرَّطْتَ، مَا عَلِمْنَا الْمُجْمَلَ مِنَ الْمُفَسَّرِ، وَلَا نَاسِخَ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - مِنْ مَنْسُوخِهِ حَتَّى جَالَسْنَا الشَّافِعِيَّ".
"Kami meriwayatkan dari Muhammad bin Muslim bin Warah, salah seorang imam hadits, bahwa Ahmad bin Hanbal berkata kepadanya, saat ia baru datang dari Mesir: 'apakah engkau telah menulis kitab-kitab asy-Syafi'i?' Ia menjawab: 'tidak.' Ahmad berkata: 'engkau telah lalai! Kami tidak mengetahui mana yang mujmal (global) dari yang mufassar (terperinci), dan tidak pula mengetahui nasikh dari mansukh hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sampai kami duduk bermajelis dengan asy-Syafi'i.'"
وَفِيمَنْ عَانَاهُ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ مَنْ أَدْخَلَ فِيهِ مَا لَيْسَ مِنْهُ لِخَفَاءِ مَعْنَى النَّسْخِ وَشَرْطِهِ.
"Di antara ahli hadits yang menekuni disiplin ini, ada yang memasukkan ke dalamnya sesuatu yang sebenarnya bukan termasuk naskh, karena samarnya makna naskh dan syaratnya bagi mereka."
وَهُوَ عِبَارَةٌ عَنْ رَفْعِ الشَّارِعِ حُكْمًا مِنْهُ مُتَقَدِّمًا بِحُكْمٍ مِنْهُ مُتَأَخِّرًا.
"Naskh adalah ungkapan tentang diangkatnya suatu hukum yang lebih dahulu oleh Sang Pembuat Syariat, dengan hukum lain dari-Nya yang datang belakangan."
وَهَذَا حَدٌّ - وَقَعَ لَنَا - سَالِمٌ مِنِ اعْتِرَاضَاتٍ وَرَدَتْ عَلَى غَيْرِهِ.
"Definisi ini - yang kami rumuskan - selamat dari sanggahan-sanggahan yang diarahkan pada definisi-definisi lain."

Pembagian Cara Mengenal Nasikh-Mansukh

ثُمَّ إِنَّ نَاسِخَ الْحَدِيثِ وَمَنْسُوخَهُ يَنْقَسِمُ أَقْسَامًا:
"Nasikh dan mansukh hadits kemudian terbagi menjadi beberapa bagian:"
فَمِنْهَا: مَا يُعْرَفُ بِتَصْرِيحِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِهِ، كَحَدِيثِ بُرَيْدَةَ الَّذِي أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: "كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، فَزُورُوهَا" فِي أَشْبَاهٍ لِذَلِكَ.
"Di antaranya: yang diketahui melalui penegasan langsung dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri, seperti hadits Buraidah yang ditakhrij Muslim dalam Shahih-nya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah', dan hadits-hadits semisal itu."
وَمِنْهَا مَا يُعْرَفُ بِقَوْلِ الصَّحَابِيِّ، كَمَا رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ، ... عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّهُ قَالَ: "كَانَ الْمَاءُ مِنَ الْمَاءِ رُخْصَةً فِي أَوَّلِ الْإِسْلَامِ، ثُمَّ نُهِيَ عَنْهَا" ... .
"Di antaranya: yang diketahui melalui perkataan sahabat, sebagaimana diriwayatkan at-Tirmidzi dan selainnya, dari Ubay bin Ka'b, ia berkata: 'dahulu (mandi wajib) karena keluarnya air mani semata adalah rukhsah (keringanan) pada awal Islam, kemudian hal itu dilarang' ..."
وَكَمَا خَرَّجَهُ النَّسَائِيُّ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: "كَانَ آخِرُ الْأَمْرَيْنِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - تَرْكَ الْوُضُوءِ مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ". فِي أَشْبَاهٍ لِذَلِكَ.
"Dan sebagaimana ditakhrij an-Nasa'i dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: 'yang terakhir dari dua perkara dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah meninggalkan wudhu dari sesuatu yang tersentuh api (dimasak)', dan hadits-hadits semisal itu."
وَمِنْهَا: مَا عُرِفَ بِالتَّارِيخِ، كَحَدِيثِ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ وَغَيْرِهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: "أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ"، وَحَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ "أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - احْتَجَمَ وَهُوَ صَائِمٌ".
"Di antaranya: yang diketahui melalui tarikh (tanggal peristiwa), seperti hadits Syaddad bin Aus dan lainnya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'batal puasa orang yang berbekam dan yang dibekam', serta hadits Ibnu Abbas: 'bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berbekam padahal beliau sedang berpuasa.'"
بَيَّنَ الشَّافِعِيُّ أَنَّ الثَّانِيَ نَاسِخٌ لِلْأَوَّلِ، مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ رُوِيَ فِي حَدِيثِ شَدَّادٍ أَنَّهُ كَانَ مَعَ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - زَمَانَ الْفَتْحِ، فَرَأَى رَجُلًا يَحْتَجِمُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، فَقَالَ: "أَفْطَرَ الْحَاجِمُ وَالْمَحْجُومُ". وَرُوِيَ فِي حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ "أَنَّهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ صَائِمٌ". فَبَانَ بِذَلِكَ: أَنَّ الْأَوَّلَ كَانَ زَمَنَ الْفَتْحِ فِي سَنَةِ ثَمَانٍ، وَالثَّانِيَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ فِي سَنَةِ عَشْرٍ.
"Asy-Syafi'i menjelaskan bahwa hadits kedua (Ibnu Abbas) adalah nasikh bagi hadits pertama (Syaddad), karena diriwayatkan dalam hadits Syaddad bahwa ia bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada masa Fathu Makkah, lalu ia melihat seorang laki-laki berbekam di bulan Ramadhan, maka beliau bersabda: 'batal puasa orang yang berbekam dan yang dibekam.' Sedangkan dalam hadits Ibnu Abbas diriwayatkan: 'bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam berbekam dalam keadaan ihram sambil berpuasa.' Dari sini menjadi jelas bahwa peristiwa pertama terjadi pada masa Fathu Makkah tahun 8 H, sedangkan peristiwa kedua terjadi pada Haji Wada' tahun 10 H (sehingga yang datang belakangan adalah nasikh bagi yang lebih dahulu)."
وَمِنْهَا: مَا يُعْرَفُ بِالْإِجْمَاعِ، كَحَدِيثِ قَتْلِ شَارِبِ الْخَمْرِ فِي الْمَرَّةِ الرَّابِعَةِ، فَإِنَّهُ مَنْسُوخٌ، عُرِفَ نَسْخُهُ بِانْعِقَادِ الْإِجْمَاعِ عَلَى تَرْكِ الْعَمَلِ بِهِ، وَالْإِجْمَاعُ لَا يَنْسَخُ وَلَا يُنْسَخُ، وَلَكِنْ يَدُلُّ عَلَى وُجُودِ نَاسِخٍ غَيْرِهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
"Di antaranya: yang diketahui melalui ijma' (kesepakatan ulama), seperti hadits tentang membunuh peminum khamar pada pelanggaran keempatnya - hadits ini mansukh, diketahui kemansukhannya melalui terbentuknya ijma' untuk meninggalkan pengamalannya. Ijma' sendiri tidak bisa menasakh maupun dinasakh, akan tetapi ia menunjukkan adanya nasikh lain (yang berasal dari nash) di luar dirinya. Wallahu a'lam bish-shawab."2

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 276.

  2. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 276-278.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email