Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 12: Hadits Mu'dhal

Langit-langit interior masjid, ilustrasi untuk artikel "Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 12: Hadits Mu'dhal"

النَّوْعُ الْحَادِيَ عَشَرَ: مَعْرِفَةُ الْمُعْضَلِ
"Anwa' kesebelas: mengenal hadits mu'dhal."1

وَهُوَ لَقَبٌ لِنَوْعٍ خَاصٍّ مِنَ الْمُنْقَطِعِ، فَكُلُّ مُعْضَلٍ مُنْقَطِعٌ، وَلَيْسَ كُلُّ مُنْقَطِعٍ مُعْضَلًا. وَقَوْمٌ يُسَمُّونَهُ مُرْسَلًا كَمَا سَبَقَ. وَهُوَ عِبَارَةٌ عَمَّا سَقَطَ مِنْ إِسْنَادِهِ اثْنَانِ فَصَاعِدًا.
"Mu'dhal adalah sebutan (laqab) untuk salah satu jenis khusus dari hadits munqathi'. Setiap hadits mu'dhal adalah munqathi', namun tidak setiap munqathi' adalah mu'dhal. Sebagian ulama menyebutnya mursal, sebagaimana telah disebutkan. Mu'dhal adalah ungkapan untuk hadits yang gugur dari sanadnya dua orang perawi atau lebih secara berurutan."
وَأَصْحَابُ الْحَدِيثِ يَقُولُونَ: أَعْضَلَهُ فَهُوَ مُعْضَلٌ - بِفَتْحِ الضَّادِ -. وَهُوَ اصْطِلَاحٌ مُشْكِلُ الْمَأْخَذِ مِنْ حَيْثُ اللُّغَةُ، وَبَحَثْتُ فَوَجَدْتُ لَهُ قَوْلَهُمْ: (أَمْرٌ عَضِيلٌ)، أَيْ مُسْتَغْلِقٌ شَدِيدٌ. وَلَا الْتِفَاتَ فِي ذَلِكَ إِلَى مُعْضِلٍ - بِكَسْرِ الضَّادِ - وَإِنْ كَانَ مِثْلَ عَضِيلٍ فِي الْمَعْنَى.
"Ahli hadits mengatakan: a'dhalahu (mengesulitkannya), fahuwa mu'dhal -dengan fathah pada huruf dhad. Ini adalah istilah yang secara bahasa asal-usulnya cukup pelik. Aku (Ibnu Shalah) telah meneliti dan mendapati ucapan mereka: 'amrun 'adhil' (perkara yang sulit), yakni yang sangat rumit. Tidak perlu memperhatikan bentuk mu'dhil -dengan kasrah pada huruf dhad- sekalipun maknanya serupa dengan 'adhil."
وَمِثَالُهُ: مَا يَرْوِيهِ تَابِعِيُّ التَّابِعِيِّ قَائِلًا فِيهِ: "قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ"، وَكَذَلِكَ مَا يَرْوِيهِ مَنْ دُونَ تَابِعِيِّ التَّابِعِيِّ "عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَوْ عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَغَيْرِهِمَا" غَيْرَ ذَاكِرٍ لِلْوَسَائِطِ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ.
"Contohnya adalah: apa yang diriwayatkan oleh tabi'ut-tabi'in dengan mengatakan: 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda...', begitu pula apa yang diriwayatkan oleh orang di bawah tingkatan tabi'ut-tabi'in dengan mengatakan: 'dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam...', atau 'dari Abu Bakr dan Umar, dan selain keduanya', tanpa menyebutkan perantara-perantara antara dirinya dan mereka."
وَذَكَرَ أَبُو نَصْرٍ السِّجْزِيُّ الْحَافِظُ قَوْلَ الرَّاوِي: "بَلَغَنِي" نَحْوَ قَوْلِ مَالِكٍ: "بَلَغَنِي عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لِلْمَمْلُوكِ طَعَامُهُ وَكُسْوَتُهُ.." الْحَدِيثَ وَقَالَ: أَصْحَابُ الْحَدِيثِ يُسَمُّونَهُ الْمُعْضَلَ.
"Abu Nashr as-Sijzi al-Hafizh menyebutkan ucapan seorang perawi 'balaghani' (telah sampai kepadaku), seperti ucapan Malik: 'telah sampai kepadaku dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: bagi budak itu ada makanan dan pakaiannya..' -hadits ini seterusnya-, dan ia berkata: ahli hadits menamainya mu'dhal."
قُلْتُ: وَقَوْلُ الْمُصَنِّفِينَ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَغَيْرِهِمْ: "قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا وَكَذَا" وَنَحْوُ ذَلِكَ، كُلُّهُ مِنْ قَبِيلِ الْمُعْضَلِ، لِمَا تَقَدَّمَ. وَسَمَّاهُ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ الْحَافِظُ فِي بَعْضِ كَلَامِهِ مُرْسَلًا، وَذَلِكَ عَلَى مَذْهَبِ مَنْ يُسَمِّي كُلَّ مَا لَا يَتَّصِلُ مُرْسَلًا كَمَا سَبَقَ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: ucapan para penulis dari kalangan fuqaha dan selain mereka: 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda demikian dan demikian' dan yang semacamnya, semuanya tergolong mu'dhal, berdasarkan apa yang telah disebutkan. Al-Khathib Abu Bakr al-Hafizh dalam sebagian ucapannya menamainya mursal, dan itu berdasarkan mazhab orang yang menamai setiap yang tidak bersambung sebagai mursal, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya."
وَإِذَا رَوَى تَابِعٌ عَنِ التَّابِعِ حَدِيثًا مَوْقُوفًا عَلَيْهِ، وَهُوَ حَدِيثٌ مُتَّصِلٌ مُسْنَدٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَدْ جَعَلَهُ الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ نَوْعًا مِنَ الْمُعْضَلِ.
"Apabila seorang tabi' meriwayatkan dari tabi'in lain sebuah hadits secara mauquf (terhenti) padanya, padahal hadits itu sebenarnya bersambung dan musnad hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka al-Hakim Abu Abdillah menjadikannya salah satu jenis mu'dhal."
مِثَالُهُ: "مَا رُوِّينَاهُ عَنِ الْأَعْمَشِ، ... عَنِ الشَّعْبِيِّ قَالَ: يُقَالُ لِلرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: عَمِلْتَ كَذَا وَكَذَا؟ فَيَقُولُ: مَا عَمِلْتُهُ، فَيُخْتَمُ عَلَى فِيهِ..." الْحَدِيثَ. فَقَدْ أَعْضَلَهُ الْأَعْمَشُ، وَهُوَ عِنْدَ الشَّعْبِيِّ عَنْ أَنَسٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، مُتَّصِلًا مُسْنَدًا.
"Contohnya: apa yang kami riwayatkan dari al-A'masy ... dari asy-Sya'bi, ia berkata: dikatakan kepada seseorang pada hari kiamat: 'engkau telah melakukan demikian dan demikian?' Ia menjawab: 'aku tidak melakukannya', lalu mulutnya pun dikunci... -hadits ini seterusnya. Al-A'masy telah meng-mu'dhal-kan hadits ini, padahal menurut asy-Sya'bi sendiri, riwayat itu berasal dari Anas, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, secara bersambung dan musnad."
قُلْتُ: هَذَا جِيدٌ حَسَنٌ؛ لِأَنَّ هَذَا الِانْقِطَاعَ بِوَاحِدٍ مَضْمُومًا إِلَى الْوَقْفِ يَشْتَمِلُ عَلَى الِانْقِطَاعِ بِاثْنَيْنِ: الصَّحَابِيِّ وَرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَلِكَ بِاسْتِحْقَاقِ اسْمِ الْإِعْضَالِ أَوْلَى، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: ini baik dan tepat, karena keterputusan satu orang perawi yang digabung dengan status mauquf ini sesungguhnya mencakup keterputusan dua orang: sahabat dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Karena itu, ia lebih layak menyandang nama i'dhal (mu'dhal). Wallahu a'lam."2

Tafri'at (Cabang-Cabang Pembahasan)

Cabang pertama:
الْإِسْنَادُ الْمُعَنْعَنُ، وَهُوَ الَّذِي يُقَالُ فِيهِ: "فُلَانٌ عَنْ فُلَانٍ" عَدَّهُ بَعْضُ النَّاسِ مِنْ قَبِيلِ الْمُرْسَلِ وَالْمُنْقَطِعِ، حَتَّى يَتَبَيَّنَ اتِّصَالُهُ بِغَيْرِهِ.
"Isnad mu'an'an, yaitu isnad yang di dalamnya dikatakan: 'fulan, dari fulan'. Sebagian orang menggolongkannya sebagai mursal dan munqathi', hingga jelas kebersambungannya melalui jalur lain."

وَالصَّحِيحُ - وَالَّذِي عَلَيْهِ الْعَمَلُ - أَنَّهُ مِنْ قَبِيلِ الْإِسْنَادِ الْمُتَّصِلِ، وَإِلَى هَذَا ذَهَبَ الْجَمَاهِيرُ مِنْ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ وَغَيْرِهِمْ، وَأَوْدَعَهُ الْمُشْتَرِطُونَ لِلصَّحِيحِ فِي تَصَانِيفِهِمْ فِيهِ وَقَبِلُوهُ، وَكَادَ أَبُو عُمَرَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ الْحَافِظُ يَدَّعِي إِجْمَاعَ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ عَلَى ذَلِكَ. وَادَّعَى أَبُو عَمْرٍو الدَّانِيُّ - الْمُقْرِئُ الْحَافِظُ - إِجْمَاعَ أَهْلِ النَّقْلِ عَلَى ذَلِكَ.
"Pendapat yang shahih -dan yang menjadi pegangan amal- adalah bahwa isnad mu'an'an tergolong isnad yang bersambung. Pendapat inilah yang dipegang mayoritas imam hadits dan selain mereka. Para ulama yang mensyaratkan keshahihan pun memasukkannya dalam karya-karya mereka dan menerimanya. Abu Umar Ibnu Abdil Barr al-Hafizh bahkan hampir mengklaim adanya ijma' para imam hadits atas hal itu, dan Abu Amr ad-Dani -ulama qira'at, al-Hafizh- mengklaim adanya ijma' ahli naql (periwayatan) atas hal itu."
وَهَذَا بِشَرْطِ أَنْ يَكُونَ الَّذِينَ أُضِيفَتِ الْعَنْعَنَةُ إِلَيْهِمْ قَدْ ثَبَتَتْ مُلَاقَاةُ بَعْضِهِمْ بَعْضًا، مَعَ بَرَاءَتِهِمْ مِنْ وَصْمَةِ التَّدْلِيسِ. فَحِينَئِذٍ يُحْمَلُ عَلَى ظَاهِرِ الِاتِّصَالِ، إِلَّا أَنْ يَظْهَرَ فِيهِ خِلَافُ ذَلِكَ.
"Ini dengan syarat bahwa orang-orang yang dinisbatkan 'an'anah kepada mereka telah terbukti pernah bertemu satu sama lain, disertai kebersihan mereka dari cacat tadlis. Jika demikian, maka riwayat itu dibawa kepada makna zahir bersambung, kecuali jika tampak bukti yang menyelisihi hal itu."
وَكَثُرَ فِي عَصْرِنَا وَمَا قَارَبَهُ بَيْنَ الْمُنْتَسِبِينَ إِلَى الْحَدِيثِ اسْتِعْمَالُ "عَنْ" فِي الْإِجَازَةِ، فَإِذَا قَالَ أَحَدُهُمْ: "قَرَأْتُ عَلَى فُلَانٍ عَنْ فُلَانٍ"، أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ، فَظُنَّ بِهِ أَنَّهُ رَوَاهُ عَنْهُ بِالْإِجَازَةِ، وَلَا يُخْرِجُهُ ذَلِكَ مِنْ قَبِيلِ الِاتِّصَالِ عَلَى مَا لَا يَخْفَى، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Pada zaman kami dan zaman yang mendekatinya, semakin marak di kalangan orang-orang yang menisbatkan diri pada ilmu hadits, penggunaan kata 'an (dari) untuk periwayatan secara ijazah. Apabila salah seorang dari mereka berkata: 'aku membaca kepada fulan, dari fulan', atau semacamnya, lalu diduga bahwa ia meriwayatkannya darinya secara ijazah, hal itu tidaklah mengeluarkannya dari golongan riwayat yang bersambung, sebagaimana sudah jelas diketahui. Wallahu a'lam."3

Cabang kedua:
اخْتَلَفُوا فِي قَوْلِ الرَّاوِي: "أَنَّ فُلَانًا قَالَ كَذَا وَكَذَا" هَلْ هُوَ بِمَنْزِلَةِ (عَنْ) فِي الْحَمْلِ عَلَى الِاتِّصَالِ، إِذَا ثَبَتَ التَّلَاقِي بَيْنَهُمَا، حَتَّى يَتَبَيَّنَ فِيهِ الِانْقِطَاعُ.
"Para ulama berselisih pendapat mengenai ucapan seorang perawi: 'bahwasanya fulan berkata demikian dan demikian' (anna fulanan qala), apakah kedudukannya sama dengan (an - dari) dalam hal dibawa kepada makna bersambung, apabila telah terbukti pertemuan antara keduanya, hingga tampak jelas keterputusannya."

مِثَالُهُ: (مَالِكٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ: أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ قَالَ كَذَا). فَرُوِّينَا عَنْ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَرَى (عَنْ فُلَانٍ) وَ (أَنَّ فُلَانًا) سَوَاءً. وَعَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّهُمَا لَيْسَا سَوَاءً.
"Contohnya: '(riwayat) Malik, dari az-Zuhri: bahwasanya Sa'id bin al-Musayyab berkata demikian.' Kami meriwayatkan dari Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau berpandangan (an fulanin) dan (anna fulanan) itu sama kedudukannya. Sedangkan dari Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhu: keduanya tidak sama."
وَحَكَى ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ عَنْ جُمْهُورِ أَهْلِ الْعِلْمِ: أَنَّ "عَنْ" وَ "أَنَّ" سَوَاءٌ، وَأَنَّهُ لَا اعْتِبَارَ بِالْحُرُوفِ وَالْأَلْفَاظِ، وَإِنَّمَا هُوَ بِاللِّقَاءِ وَالْمُجَالَسَةِ، وَالسَّمَاعِ وَالْمُشَاهَدَةِ، يَعْنِي مَعَ السَّلَامَةِ مِنَ التَّدْلِيسِ، فَإِذَا كَانَ سَمَاعُ بَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ صَحِيحًا كَانَ حَدِيثُ بَعْضِهِمْ عَنْ بَعْضٍ بِأَيِّ لَفْظٍ وَرَدَ مَحْمُولًا عَلَى الِاتِّصَالِ، حَتَّى يَتَبَيَّنَ فِيهِ الِانْقِطَاعُ.
"Ibnu Abdil Barr menceritakan dari mayoritas ahli ilmu, bahwa 'an dan anna itu sama, dan bahwa yang menjadi patokan bukanlah huruf dan lafal, melainkan pertemuan, kebersamaan majelis, mendengar langsung, dan menyaksikan -yakni disertai kebersihan dari tadlis. Apabila pendengaran sebagian mereka dari sebagian yang lain memang shahih, maka riwayat sebagian mereka dari sebagian yang lain, dengan lafal apa pun yang digunakan, dibawa kepada makna bersambung, sampai tampak jelas keterputusannya."
وَحَكَى ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الْبَرْدِيجِيِّ أَنَّ حَرْفَ "أَنَّ" مَحْمُولٌ عَلَى الِانْقِطَاعِ، حَتَّى يَتَبَيَّنَ السَّمَاعُ فِي ذَلِكَ الْخَبَرِ بِعَيْنِهِ مِنْ جِهَةٍ أُخْرَى. وَقَالَ: عِنْدِي لَا مَعْنَى لِهَذَا، لِإِجْمَاعِهِمْ عَلَى أَنَّ الْإِسْنَادَ الْمُتَّصِلَ بِالصَّحَابِيِّ سَوَاءٌ فِيهِ قَالَ: "قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ"، أَوْ "أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ"، أَوْ "عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ"، أَوْ "سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Ibnu Abdil Barr juga menceritakan dari Abu Bakr al-Bardiji, bahwa huruf 'anna' dibawa kepada makna terputus, sampai jelas terbukti adanya pendengaran langsung pada khabar itu sendiri dari jalur lain. Ibnu Abdil Barr berkata: 'menurutku pendapat ini tidak ada artinya, karena ijma' mereka bahwa isnad yang bersambung hingga sahabat itu sama saja, baik dikatakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, atau: bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, atau: dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda, atau: aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda.' Wallahu a'lam."
قُلْتُ: وَوَجَدْتُ مِثْلَمَا حَكَاهُ عَنِ الْبَرْدِيجِيِّ أَبِي بَكْرٍ الْحَافِظِ لِلْحَافِظِ الْفَحْلِ يَعْقُوبَ بْنِ شَيْبَةَ فِي مُسْنَدِهِ الْفَحْلِ، فَإِنَّهُ ذَكَرَ مَا رَوَاهُ أَبُو الزُّبَيْرِ عَنِ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ عَنْ عَمَّارٍ قَالَ: "أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَرَدَّ عَلَيَّ السَّلَامَ". وَجَعَلَهُ مُسْنَدًا مَوْصُولًا. وَذَكَرَ رِوَايَةَ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ لِذَلِكَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنِ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ "أَنَّ عَمَّارًا مَرَّ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [وَهُوَ يُصَلِّي]"،. فَجَعَلَهُ مُرْسَلًا، مِنْ حَيْثُ كَوْنُهُ قَالَ: "إِنَّ عَمَّارًا فَعَلَ" وَلَمْ يَقُلْ: "عَنْ عَمَّارٍ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: aku mendapati hal serupa dengan yang diceritakan al-Bardiji dari Abu Bakr al-Hafizh, pada al-Hafizh besar Ya'qub bin Syaibah dalam Musnad-nya yang agung. Beliau menyebutkan riwayat Abu az-Zubair dari Ibnul Hanafiyyah dari Ammar, ia berkata: 'aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang sedang shalat, lalu aku mengucapkan salam kepadanya, dan beliau pun membalas salamku' -dan menjadikannya sebagai riwayat musnad yang bersambung. Beliau juga menyebutkan riwayat Qais bin Sa'd untuk kisah yang sama, dari Atha' bin Abi Rabah, dari Ibnul Hanafiyyah: 'bahwasanya Ammar melewati Nabi shallallahu 'alaihi wasallam [yang sedang shalat]' -lalu menjadikannya sebagai riwayat mursal, karena redaksinya berbunyi: 'bahwasanya Ammar melakukan...' dan tidak berkata: 'dari Ammar'. Wallahu a'lam."
ثُمَّ إِنَّ الْخَطِيبَ مَثَّلَ هَذِهِ الْمَسْأَلَةَ بِحَدِيثِ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنْ عُمَرَ: "أَنَّهُ سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَيَنَامُ أَحَدُنَا وَهُوَ جُنُبٌ؟"... الْحَدِيثَ. وَفِي رِوَايَةٍ أُخْرَى: عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ قَالَ: "يَا رَسُولَ اللَّهِ..." الْحَدِيثَ. ثُمَّ قَالَ: "ظَاهِرُ الرِّوَايَةِ الْأُولَى يُوجِبُ أَنْ يَكُونَ مِنْ مُسْنَدِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالثَّانِيَةُ ظَاهِرُهَا يُوجِبُ أَنْ يَكُونَ مِنْ مُسْنَدِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ".
"Al-Khathib mencontohkan permasalahan ini dengan hadits Nafi', dari Ibnu Umar, dari Umar: 'bahwasanya ia bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: apakah salah seorang dari kami boleh tidur dalam keadaan junub?'... hadits ini seterusnya. Dalam riwayat lain: dari Nafi', dari Ibnu Umar, bahwa Umar berkata: 'wahai Rasulullah...' hadits ini seterusnya. Al-Khathib kemudian berkata: 'zahir riwayat pertama mengharuskannya tergolong musnad Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sedangkan zahir riwayat kedua mengharuskannya tergolong musnad Ibnu Umar dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.'"
قُلْتُ: لَيْسَ هَذَا الْمِثَالُ مُمَاثِلًا لِمَا نَحْنُ بِصَدَدِهِ؛ لِأَنَّ الِاعْتِمَادَ فِيهِ فِي الْحُكْمِ بِالِاتِّصَالِ عَلَى مَذْهَبِ الْجُمْهُورِ إِنَّمَا هُوَ عَلَى اللِّقَاءِ وَالْإِدْرَاكِ، وَذَلِكَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ مُشْتَرَكٌ مُتَرَدِّدٌ، لِتَعَلُّقِهِ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَبِصُحْبَةِ الرَّاوِي ابْنِ عُمَرَ لَهُمَا، فَاقْتَضَى ذَلِكَ مِنْ جِهَةٍ: كَوْنُهُ رَوَاهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمِنْ جِهَةٍ أُخْرَى: كَوْنُهُ رَوَاهُ عَنْ عُمَرَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: contoh ini tidak semisal dengan apa yang sedang kita bahas, karena sandaran hukum bersambung menurut mazhab mayoritas dalam kasus ini adalah pada pertemuan dan keterjumpaan (liqa' dan idrak), sedangkan dalam hadits ini keduanya sama-sama mungkin dan berpotensi ganda, karena kaitannya sekaligus dengan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan dengan Umar radhiyallahu 'anhu, serta dengan kesertaan (shuhbah) sang perawi, Ibnu Umar, terhadap keduanya. Hal itu memungkinkan dari satu sisi: bahwa ia meriwayatkannya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam langsung, dan dari sisi lain: bahwa ia meriwayatkannya dari Umar, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Wallahu a'lam."4

Cabang ketiga:
قَدْ ذَكَرْنَا مَا حَكَاهُ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ مِنْ تَعْمِيمِ الْحُكْمِ بِالِاتِّصَالِ فِيمَا يَذْكُرُهُ الرَّاوِي عَمَّنْ لَقِيَهُ بِأَيِّ لَفْظٍ كَانَ، وَهَكَذَا أَطْلَقَ أَبُو بَكْرٍ الشَّافِعِيُّ الصَّيْرَفِيُّ ذَلِكَ فَقَالَ: "كُلُّ مَنْ عُلِمَ لَهُ سَمَاعٌ مِنْ إِنْسَانٍ، فَحَدَّثَ عَنْهُ فَهُوَ عَلَى السَّمَاعِ حَتَّى يُعْلَمَ أَنَّهُ لَمْ يَسْمَعْ مِنْهُ مَا حَكَاهُ، وَكُلُّ مَنْ عُلِمَ لَهُ لِقَاءُ إِنْسَانٍ، فَحَدَّثَ عَنْهُ فَحُكْمُهُ هَذَا الْحُكْمُ".
"Kami telah menyebutkan apa yang diceritakan Ibnu Abdil Barr tentang penyeragaman hukum bersambung pada apa yang disebutkan seorang perawi dari orang yang pernah ia temui, dengan lafal apa pun. Demikian pula Abu Bakr asy-Syafi'i ash-Shairafi melontarkan pendapat yang sama, ia berkata: 'setiap orang yang diketahui pernah mendengar dari seseorang, lalu ia meriwayatkan darinya, maka riwayatnya dibawa kepada makna mendengar langsung, sampai diketahui bahwa ia sebenarnya tidak mendengar apa yang ia ceritakan itu darinya. Dan setiap orang yang diketahui pernah bertemu seseorang, lalu ia meriwayatkan darinya, maka hukumnya sama seperti itu.'"

وَإِنَّمَا قَالَ هَذَا فِيمَنْ لَمْ يَظْهَرْ تَدْلِيسُهُ. وَمِنَ الْحُجَّةِ فِي ذَلِكَ وَفِي سَائِرِ الْبَابِ أَنَّهُ لَوْ لَمْ يَكُنْ قَدْ سَمِعَهُ مِنْهُ لَكَانَ بِإِطْلَاقِهِ الرِّوَايَةَ عَنْهُ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ الْوَاسِطَةِ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ مُدَلِّسًا، وَالظَّاهِرُ السَّلَامَةُ مِنْ وَصْمَةِ التَّدْلِيسِ، وَالْكَلَامُ فِيمَنْ لَمْ يُعْرَفْ بِالتَّدْلِيسِ.
"Ucapan ini beliau maksudkan bagi perawi yang tidak diketahui melakukan tadlis. Di antara hujjah dalam permasalahan ini, dan dalam keseluruhan bab ini, adalah bahwa seandainya ia tidak pernah mendengar riwayat itu darinya, tentu dengan meriwayatkannya secara mutlak tanpa menyebut perantara antara dirinya dan orang itu, ia telah menjadi seorang mudallis. Padahal yang zahir adalah kebersihannya dari cacat tadlis, dan pembahasan ini memang khusus bagi perawi yang tidak dikenal melakukan tadlis."
وَمِنْ أَمْثِلَةِ ذَلِكَ: قَوْلُهُ "قَالَ فُلَانٌ كَذَا وَكَذَا" مِثْلَ أَنْ يَقُولَ نَافِعٌ: "قَالَ ابْنُ عُمَرَ". وَكَذَلِكَ لَوْ قَالَ عَنْهُ: "ذَكَرَ، أَوْ فَعَلَ، أَوْ حَدَّثَ، أَوْ كَانَ يَقُولُ كَذَا وَكَذَا"، وَمَا جَانَسَ ذَلِكَ، فَكُلُّ ذَلِكَ مَحْمُولٌ ظَاهِرًا عَلَى الِاتِّصَالِ، وَأَنَّهُ تَلَقَّى ذَلِكَ مِنْهُ مِنْ غَيْرِ وَاسِطَةٍ بَيْنَهُمَا، مَهْمَا ثَبَتَ لِقَاؤُهُ لَهُ عَلَى الْجُمْلَةِ.
"Di antara contohnya adalah ucapan: 'fulan berkata demikian dan demikian', seperti Nafi' berkata: 'Ibnu Umar berkata...'. Begitu pula jika ia berkata tentangnya: 'ia menyebutkan, atau melakukan, atau menceritakan, atau biasa mengatakan demikian dan demikian', dan yang serupa dengan itu -semuanya secara zahir dibawa kepada makna bersambung, dan bahwa ia menerima riwayat itu darinya tanpa perantara di antara keduanya, selama pertemuan keduanya secara umum telah terbukti."
ثُمَّ مِنْهُمْ مَنِ اقْتَصَرَ فِي هَذَا الشَّرْطِ الْمَشْرُوطِ فِي ذَلِكَ وَنَحْوِهِ عَلَى مُطْلَقِ اللِّقَاءِ، أَوِ السَّمَاعِ، كَمَا حَكَيْنَاهُ آنِفًا. وَقَالَ فِيهِ أَبُو عَمْرٍو الْمُقْرِئُ: "إِذَا كَانَ مَعْرُوفًا بِالرِّوَايَةِ عَنْهُ". وَقَالَ فِيهِ أَبُو الْحَسَنِ الْقَابِسِيُّ: "إِذَا أَدْرَكَ الْمَنْقُولَ عَنْهُ إِدْرَاكًا بَيِّنًا".
"Kemudian sebagian ulama membatasi syarat ini, dan yang semisalnya, hanya pada sekadar pertemuan atau mendengar secara mutlak, sebagaimana telah kami ceritakan sebelumnya. Abu Amr al-Muqri' berkata mengenai hal ini: 'apabila ia dikenal biasa meriwayatkan darinya'. Abul Hasan al-Qabisi berkata: 'apabila ia benar-benar sezaman (mendapati) dengan orang yang dinukil riwayatnya, dengan keterjumpaan yang jelas'."
وَذَكَرَ أَبُو الْمُظَفَّرِ السَّمْعَانِيُّ فِي الْعَنْعَنَةِ أَنَّهُ يُشْتَرَطُ طُولُ الصُّحْبَةِ بَيْنَهُمْ.
"Abul Muzhaffar as-Sam'ani menyebutkan tentang 'an'anah bahwa disyaratkan adanya kebersamaan (shuhbah) yang lama di antara keduanya."
وَأَنْكَرَ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ فِي خُطْبَةِ صَحِيحِهِ عَلَى بَعْضِ أَهْلِ عَصْرِهِ، حَيْثُ اشْتَرَطَ فِي الْعَنْعَنَةِ ثُبُوتَ اللِّقَاءِ وَالِاجْتِمَاعِ، وَادَّعَى أَنَّهُ قَوْلٌ مُخْتَرَعٌ لَمْ يُسْبَقْ قَائِلُهُ إِلَيْهِ، وَأَنَّ الْقَوْلَ الشَّائِعَ الْمُتَّفَقَ عَلَيْهِ بَيْنَ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالْأَخْبَارِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا أَنَّهُ يَكْفِي فِي ذَلِكَ أَنْ يَثْبُتَ كَوْنُهُمَا فِي عَصْرٍ وَاحِدٍ، وَإِنْ لَمْ يَأْتِ فِي خَبَرٍ قَطُّ أَنَّهُمَا اجْتَمَعَا أَوْ تَشَافَهَا.
"Muslim bin al-Hajjaj, dalam muqadimah kitab Shahih-nya, mengingkari sebagian ulama sezamannya yang mensyaratkan dalam 'an'anah harus terbukti adanya pertemuan dan perjumpaan. Beliau mengklaim bahwa itu adalah pendapat yang baru diciptakan, tidak pernah didahului oleh siapa pun sebelumnya, dan bahwa pendapat yang masyhur lagi disepakati di kalangan ahli ilmu khabar, baik dahulu maupun sekarang, adalah cukup terbuktinya keduanya hidup dalam satu masa, sekalipun tidak pernah disebutkan dalam suatu riwayat pun bahwa keduanya benar-benar berjumpa atau bertatap muka langsung."
وَفِيمَا قَالَهُ مُسْلِمٌ نَظَرٌ، وَقَدْ قِيلَ: إِنَّ الْقَوْلَ الَّذِي رَدَّهُ مُسْلِمٌ هُوَ الَّذِي عَلَيْهِ أَئِمَّةُ هَذَا الْعِلْمِ: عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ، وَالْبُخَارِيُّ، وَغَيْرُهُمَا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Namun dalam ucapan Muslim ini masih perlu ditinjau (nazhar). Ada yang mengatakan: pendapat yang ditolak Muslim itu justru adalah pendapat yang dipegang oleh para imam ilmu ini: Ali bin al-Madini, al-Bukhari, dan selain keduanya. Wallahu a'lam."
قُلْتُ: وَهَذَا الْحُكْمُ لَا أَرَاهُ يَسْتَمِرُّ بَعْدَ الْمُتَقَدِّمِينَ، فِيمَا وُجِدَ مِنَ الْمُصَنِّفِينَ فِي تَصَانِيفِهِمْ، مِمَّا ذَكَرُوهُ عَنْ مَشَايِخِهِمْ قَائِلِينَ فِيهِ: "ذَكَرَ فُلَانٌ، قَالَ فُلَانٌ" وَنَحْوَ ذَلِكَ، فَافْهَمْ كُلَّ ذَلِكَ، فَإِنَّهُ مُهِمٌّ عَزِيزٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: hukum ini, menurutku, tidak berlaku terus-menerus sesudah generasi mutaqaddimin, pada apa yang didapati dari para penulis dalam karya-karya mereka, berupa apa yang mereka sebutkan dari guru-guru mereka dengan ucapan: 'fulan menyebutkan, fulan berkata', dan yang semacamnya. Maka pahamilah semua ini, karena ia adalah persoalan yang penting lagi jarang dibahas. Wallahu a'lam."5

Cabang keempat:
التَّعْلِيقُ الَّذِي يَذْكُرُهُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُمَيْدِيُّ، صَاحِبُ (الْجَمْعِ بَيْنَ الصَّحِيحَيْنِ) وَغَيْرُهُ مِنَ الْمَغَارِبَةِ، فِي أَحَادِيثَ مِنْ صَحِيحِ الْبُخَارِيِّ قُطِعَ إِسْنَادُهَا - وَقَدِ اسْتَعْمَلَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ مِنْ قَبْلُ -: صُورَتُهُ صُورَةُ الِانْقِطَاعِ، وَلَيْسَ حُكْمُهُ حُكْمَهُ، وَلَا خَارِجًا مَا وَجَدَ ذَلِكَ فِيهِ مِنْهُ مِنْ قَبِيلِ الصَّحِيحِ إِلَى قَبِيلِ الضَّعِيفِ، وَذَلِكَ لِمَا عُرِفَ مِنْ شَرْطِهِ وَحُكْمِهِ، عَلَى مَا نَبَّهْنَا عَلَيْهِ فِي الْفَائِدَةِ السَّادِسَةِ مِنَ النَّوْعِ الْأَوَّلِ.
"Ta'liq, yang disebutkan oleh Abu Abdillah al-Humaidi, penulis al-Jam'u bainash-Shahihain, dan ulama Maghrib lainnya, pada hadits-hadits dari Shahih al-Bukhari yang sanadnya terpotong -istilah ini juga telah digunakan ad-Daraquthni sebelumnya. Bentuknya adalah bentuk keterputusan, namun hukumnya bukanlah hukum hadits terputus, dan tidak mengeluarkan apa yang didapati padanya dari golongan shahih menuju golongan dha'if, karena telah diketahui syarat dan hukumnya, sebagaimana telah kami singgung pada faidah keenam dari anwa' pertama."

وَلَا الْتِفَاتَ إِلَى أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ حَزْمٍ الظَّاهِرِيِّ الْحَافِظِ فِي رَدِّهِ مَا أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ، مِنْ حَدِيثِ أَبِي عَامِرٍ، أَوْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْعَرِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَيَكُونَنَّ فِي أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ.." الْحَدِيثَ. مِنْ جِهَةِ أَنَّ الْبُخَارِيَّ أَوْرَدَهُ قَائِلًا فِيهِ: قَالَ هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ وَسَاقَهُ بِإِسْنَادِهِ، فَزَعَمَ ابْنُ حَزْمٍ أَنَّهُ مُنْقَطِعٌ فِيمَا بَيْنَ الْبُخَارِيِّ وَهِشَامٍ، وَجَعَلَهُ جَوَابًا عَنِ الِاحْتِجَاجِ بِهِ عَلَى تَحْرِيمِ الْمَعَازِفِ. وَأَخْطَأَ فِي ذَلِكَ مِنْ وُجُوهٍ، وَالْحَدِيثُ صَحِيحٌ مَعْرُوفُ الِاتِّصَالِ بِشَرْطِ الصَّحِيحِ.
"Tidak perlu menoleh kepada Abu Muhammad Ibnu Hazm azh-Zhahiri al-Hafizh, yang menolak hadits yang dikeluarkan al-Bukhari, dari hadits Abu Amir atau Abu Malik al-Asy'ari, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: 'benar-benar akan ada di kalangan umatku kaum-kaum yang menghalalkan sutra, khamr, dan alat-alat musik..' -hadits ini seterusnya. Penolakannya berdasarkan bahwa al-Bukhari membawakannya dengan mengatakan: 'Hisyam bin Ammar berkata', lalu menyebutkan sanadnya. Ibnu Hazm menganggap ini terputus antara al-Bukhari dan Hisyam, dan menjadikannya sebagai jawaban untuk menolak penggunaan hadits ini sebagai dalil pengharaman alat musik. Ia keliru dalam hal ini dari beberapa sisi, dan hadits ini sesungguhnya shahih, diketahui bersambung sanadnya sesuai syarat keshahihan."
وَالْبُخَارِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ قَدْ يَفْعَلُ ذَلِكَ، لِكَوْنِ ذَلِكَ الْحَدِيثِ مَعْرُوفًا مِنْ جِهَةِ الثِّقَاتِ عَنْ ذَلِكَ الشَّخْصِ الَّذِي عَلَّقَهُ عَنْهُ، وَقَدْ يَفْعَلُ ذَلِكَ لِكَوْنِهِ قَدْ ذَكَرَ ذَلِكَ الْحَدِيثَ فِي مَوْضِعٍ آخَرَ مِنْ كِتَابِهِ مُسْنَدًا مُتَّصِلًا وَقَدْ يَفْعَلُ ذَلِكَ لِغَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي لَا يَصْحَبُهَا خَلَلُ الِانْقِطَاعِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Al-Bukhari rahimahullah kadang melakukan hal semacam itu, karena hadits tersebut memang telah dikenal diriwayatkan dari jalur para perawi tsiqah dari orang yang ia gantungkan (ta'liq) riwayat itu kepadanya. Kadang beliau melakukannya karena telah menyebutkan hadits itu di tempat lain dalam kitabnya secara musnad dan bersambung. Dan kadang beliau melakukannya karena sebab-sebab lain, yang tidak disertai cacat keterputusan. Wallahu a'lam."
وَمَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْحُكْمِ فِي التَّعْلِيقِ الْمَذْكُورِ فَذَلِكَ فِيمَا أَوْرَدَهُ مِنْهُ أَصْلًا وَمَقْصُودًا لَا فِيمَا أَوْرَدَهُ فِي مَعْرِضِ الِاسْتِشْهَادِ، فَإِنَّ الشَّوَاهِدَ يُحْتَمَلُ فِيهَا مَا لَيْسَ مِنْ شَرْطِ الصَّحِيحِ، مُعَلَّقًا كَانَ أَوْ مَوْصُولًا.
"Hukum yang kami sebutkan mengenai ta'liq di atas berlaku pada apa yang beliau bawakan sebagai pokok dan tujuan utama, bukan pada apa yang beliau bawakan sekadar sebagai syahid (penguat). Karena pada syawahid (hadits-hadits penguat) dapat ditoleransi apa yang bukan termasuk syarat keshahihan, baik itu mu'allaq maupun maushul (bersambung)."
ثُمَّ إِنَّ لَفْظَ التَّعْلِيقِ وَجَدْتُهُ مُسْتَعْمَلًا فِيمَا حُذِفَ مِنْ مُبْتَدَأٍ إِسْنَادُهُ وَاحِدٌ فَأَكْثَرُ، حَتَّى إِنَّ بَعْضَهُمُ اسْتَعْمَلَهُ فِي حَذْفِ كُلِّ الْإِسْنَادِ.
"Kemudian, aku mendapati istilah ta'liq digunakan untuk hadits yang dibuang dari permulaan sanadnya satu perawi atau lebih, bahkan sebagian ulama menggunakannya untuk pembuangan seluruh sanad sekaligus."
مِثَالُ ذَلِكَ: قَوْلُهُ "قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا وَكَذَا، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كَذَا وَكَذَا. رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ كَذَا وَكَذَا. قَالَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ كَذَا وَكَذَا، قَالَ الزُّهْرِيُّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا وَكَذَا". وَهَكَذَا إِلَى شُيُوخِ شُيُوخِهِ.
"Contohnya: ucapan 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda demikian dan demikian', 'Ibnu Abbas berkata demikian dan demikian', 'Abu Hurairah meriwayatkan demikian dan demikian', 'Sa'id bin al-Musayyab berkata dari Abu Hurairah demikian dan demikian', 'az-Zuhri berkata dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam demikian dan demikian' -dan seterusnya hingga ke guru-guru dari gurunya."
وَأَمَّا مَا أَوْرَدَهُ كَذَلِكَ عَنْ شُيُوخِهِ فَهُوَ مِنْ قَبِيلِ مَا ذَكَرْنَاهُ قَرِيبًا فِي الثَّالِثِ مِنْ هَذِهِ التَّفْرِيعَاتِ.
"Adapun apa yang beliau bawakan seperti itu dari guru-gurunya sendiri, maka itu termasuk apa yang telah kami sebutkan sebelumnya pada cabang ketiga dari tafri'at ini."
وَبَلَغَنِي عَنْ بَعْضِ الْمُتَأَخِّرِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَغْرِبِ أَنَّهُ جَعَلَهُ قِسْمًا مِنَ التَّعْلِيقِ ثَانِيًا، وَأَضَافَ إِلَيْهِ قَوْلَ الْبُخَارِيِّ - فِي غَيْرِ مَوْضِعٍ مِنْ كِتَابِهِ -: "وَقَالَ لِي فُلَانٌ، وَزَادَنَا فُلَانٌ" فَوَسَمَ كُلَّ ذَلِكَ بِالتَّعْلِيقِ الْمُتَّصِلِ مِنْ حَيْثُ الظَّاهِرُ، الْمُنْفَصِلِ مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى، وَقَالَ: مَتَى رَأَيْتَ الْبُخَارِيَّ يَقُولُ: "وَقَالَ لِي، وَقَالَ لَنَا" فَاعْلَمْ أَنَّهُ إِسْنَادٌ لَمْ يَذْكُرْهُ لِلِاحْتِجَاجِ بِهِ، وَإِنَّمَا ذَكَرُهُ لِلِاسْتِشْهَادِ بِهِ.
"Sampai kepadaku dari sebagian ulama mutaakhirin dari kalangan Maghrib, bahwa ia menjadikan hal ini sebagai jenis kedua dari ta'liq, dan menambahkan padanya ucapan al-Bukhari -di berbagai tempat dalam kitabnya-: 'fulan berkata kepadaku, dan fulan menambahkan riwayat kepada kami'. Ia menandai semua itu dengan istilah ta'liq yang secara zahir bersambung, namun secara makna terpisah, dan berkata: 'kapan pun engkau melihat al-Bukhari mengatakan: waqaala li, waqaala lanaa (fulan berkata kepadaku/kepada kami), ketahuilah bahwa itu adalah sanad yang tidak beliau sebutkan untuk berhujjah dengannya, melainkan hanya untuk dijadikan syahid (penguat).'"
وَكَثِيرًا مَا يُعَبِّرُ الْمُحَدِّثُونَ بِهَذَا اللَّفْظِ عَمَّا جَرَى بَيْنَهُمْ فِي الْمُذَاكَرَاتِ وَالْمُنَاظَرَاتِ، وَأَحَادِيثُ الْمُذَاكَرَةِ قَلَّمَا يَحْتَجُّونَ بِهَا.
"Para muhaddits sering menggunakan lafal ini untuk menceritakan apa yang terjadi di antara mereka dalam mudzakarah (diskusi ilmiah lisan) dan munazharah (perdebatan ilmiah), dan hadits-hadits mudzakarah semacam ini jarang sekali mereka jadikan hujjah."
قُلْتُ: وَمَا ادَّعَاهُ عَلَى الْبُخَارِيِّ مُخَالِفٌ لِمَا قَالَهُ مَنْ هُوَ أَقْدَمُ مِنْهُ وَأَعْرَفُ بِالْبُخَارِيِّ، وَهُوَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ أَبُو جَعْفَرِ بْنُ حَمْدَانَ النَّيْسَابُورِيُّ، فَقَدْ رُوِّينَا عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: كُلُّ مَا قَالَ الْبُخَارِيُّ: "قَالَ لِي فُلَانٌ" فَهُوَ عَرْضٌ وَمُنَاوَلَةٌ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: apa yang diklaimnya atas al-Bukhari ini menyelisihi apa yang dikatakan oleh orang yang lebih dahulu darinya dan lebih mengenal al-Bukhari, yaitu hamba yang shalih Abu Ja'far bin Hamdan an-Naisaburi. Kami meriwayatkan darinya bahwa ia berkata: 'setiap kali al-Bukhari berkata: fulan berkata kepadaku, maka itu adalah metode periwayatan 'ardh (membacakan kepada guru) dan munawalah (penyerahan naskah).'"
قُلْتُ: وَلَمْ أَجِدْ لَفْظَ التَّعْلِيقِ مُسْتَعْمَلًا فِيمَا سَقَطَ فِيهِ بَعْضُ رِجَالِ الْإِسْنَادِ مِنْ وَسَطِهِ أَوْ مِنْ آخِرِهِ، وَلَا فِي مِثْلِ قَوْلِهِ: "يُرْوَى عَنْ فُلَانٍ، وَيُذْكَرُ عَنْ فُلَانٍ" وَمَا أَشْبَهَهُ مِمَّا لَيْسَ فِيهِ جَزْمٌ عَلَى مَنْ ذَكَرَ ذَلِكَ بِأَنَّهُ قَالَهُ وَذَكَرَهُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: aku tidak mendapati istilah ta'liq digunakan untuk hadits yang gugur sebagian perawinya dari pertengahan atau akhir sanadnya, dan juga tidak untuk ucapan semacam: 'diriwayatkan dari fulan, disebutkan dari fulan', dan yang semisalnya, yang di dalamnya tidak ada kepastian bahwa orang yang disebutkan itu benar-benar mengatakan dan meriwayatkannya."
وَكَأَنَّ هَذَا التَّعْلِيقَ مَأْخُوذٌ مِنْ تَعْلِيقِ الْجِدَارِ، وَتَعْلِيقِ الطَّلَاقِ وَنَحْوِهِ، لِمَا يَشْتَرِكُ الْجَمِيعُ فِيهِ مِنْ قَطْعِ الِاتِّصَالِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Seakan-akan istilah ta'liq ini diambil dari ta'liq (menggantungkan sesuatu) pada dinding, atau ta'liq talak dan semacamnya, karena kesamaan semuanya dalam hal memutuskan sambungan (dengan bagian sebelumnya). Wallahu a'lam."6

Cabang kelima:
الْحَدِيثُ الَّذِي رَوَاهُ بَعْضُ الثِّقَاتِ مُرْسَلًا وَبَعْضُهُمْ مُتَّصِلًا اخْتَلَفَ أَهْلُ الْحَدِيثِ فِي أَنَّهُ مُلْحَقٌ بِقَبِيلِ الْمَوْصُولِ أَوْ بِقَبِيلِ الْمُرْسَلِ.
"Hadits yang diriwayatkan oleh sebagian perawi tsiqah secara mursal, dan sebagian yang lain secara bersambung, ahli hadits berselisih pendapat mengenai apakah ia dihukumi tergolong maushul (bersambung) atau tergolong mursal."

مِثَالُهُ: حَدِيثُ: "لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ"، رَوَاهُ إِسْرَائِيلُ بْنُ يُونُسَ فِي آخَرِينَ عَنْ جَدِّهِ أَبِي إِسْحَاقَ السَّبِيعِيِّ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْنَدًا هَكَذَا مُتَّصِلًا. وَرَوَاهُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، وَشُعْبَةُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْسَلًا هَكَذَا.
"Contohnya: hadits 'tidak sah nikah kecuali dengan wali'. Diriwayatkan oleh Isra'il bin Yunus, bersama sejumlah perawi lain, dari kakeknya Abu Ishaq as-Sabi'i, dari Abu Burdah, dari ayahnya, Abu Musa al-Asy'ari, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, secara musnad dan bersambung seperti ini. Namun diriwayatkan pula oleh Sufyan ats-Tsauri dan Syu'bah, dari Abu Ishaq, dari Abu Burdah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, secara mursal seperti ini."
فَحَكَى الْخَطِيبُ الْحَافِظُ أَنَّ أَكْثَرَ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ يَرَوْنَ الْحُكْمَ فِي هَذَا وَأَشْبَاهِهِ لِلْمُرْسَلِ. وَعَنْ بَعْضِهِمْ: أَنَّ الْحُكْمَ لِلْأَكْثَرِ. وَعَنْ بَعْضِهِمْ: أَنَّ الْحُكْمَ لِلْأَحْفَظِ، فَإِذَا كَانَ مَنْ أَرْسَلَهُ أَحْفَظَ مِمَّنْ وَصَلَهُ فَالْحُكْمُ لِمَنْ أَرْسَلَهُ، ثُمَّ لَا يَقْدَحُ ذَلِكَ فِي عَدَالَةِ مَنْ وَصَلَهُ وَأَهْلِيَّتِهِ.
"Al-Khathib al-Hafizh menceritakan bahwa mayoritas ahli hadits berpandangan hukum dalam kasus ini dan yang semisalnya diberikan kepada riwayat yang mursal. Sebagian lain berpendapat: hukum diberikan kepada mayoritas perawi. Sebagian lain lagi berpendapat: hukum diberikan kepada yang paling kuat hafalannya. Apabila perawi yang me-mursal-kannya lebih kuat hafalannya dibanding yang mewashalkannya (menyambungkannya), maka hukum diberikan kepada yang me-mursal-kannya, namun hal itu tidak mencacatkan keadilan dan kelayakan perawi yang mewashalkannya."
وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: "مَنْ أَسْنَدَ حَدِيثًا قَدْ أَرْسَلَهُ الْحُفَّاظُ فَإِرْسَالُهُمْ لَهُ يَقْدَحُ فِي مُسْنَدِهِ وَفِي عَدَالَتِهِ وَأَهْلِيَّتِهِ". وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: "الْحُكْمُ لِمَنْ أَسْنَدَهُ إِذَا كَانَ عَدْلًا ضَابِطًا، فَيُقْبَلُ خَبَرُهُ وَإِنْ خَالَفَهُ غَيْرُهُ، سَوَاءٌ كَانَ الْمُخَالِفُ لَهُ وَاحِدًا أَوْ جَمَاعَةً". قَالَ الْخَطِيبُ: "هَذَا الْقَوْلُ هُوَ الصَّحِيحُ".
"Sebagian ulama lain berkata: 'siapa yang menyandarkan (musnadkan) sebuah hadits yang telah di-mursal-kan oleh para huffazh, maka pengmursalan mereka itu mencacatkan riwayat musnadnya sekaligus keadilan dan kelayakannya.' Sebagian lain berkata: 'hukum diberikan kepada yang menyandarkannya (mewashalkannya), apabila ia adil lagi dhabit, maka khabarnya diterima sekalipun diselisihi oleh perawi lain, baik yang menyelisihinya itu satu orang maupun sekelompok orang.' Al-Khathib berkata: 'pendapat inilah yang shahih.'"
قُلْتُ: وَمَا صَحَّحَهُ هُوَ الصَّحِيحُ فِي الْفِقْهِ وَأُصُولِهِ، وَسُئِلَ الْبُخَارِيُّ عَنْ حَدِيثِ: "لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ" الْمَذْكُورِ، فَحَكَمَ لِمَنْ وَصَلَهُ، وَقَالَ: "الزِّيَادَةُ مِنَ الثِّقَةِ مَقْبُولَةٌ"، فَقَالَ الْبُخَارِيُّ هَذَا، مَعَ أَنَّ مَنْ أَرْسَلَهُ شُعْبَةُ وَسُفْيَانُ، وَهُمَا جَبَلَانِ لَهُمَا مِنَ الْحِفْظِ وَالْإِتْقَانِ الدَّرَجَةُ الْعَالِيَةُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: apa yang beliau (al-Khathib) shahihkan itu memang yang shahih menurut ilmu fikih dan ushulnya. Al-Bukhari sendiri pernah ditanya tentang hadits 'tidak sah nikah kecuali dengan wali' di atas, lalu beliau memutuskan hukum untuk yang mewashalkannya, dan berkata: 'tambahan dari perawi tsiqah itu diterima.' Al-Bukhari mengatakan ini padahal yang me-mursal-kannya adalah Syu'bah dan Sufyan, dua tokoh besar yang memiliki derajat tinggi dalam hafalan dan ketelitian."
وَيَلْتَحِقُ بِهَذَا مَا إِذَا كَانَ الَّذِي وَصَلَهُ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَهُ، وَصَلَهُ فِي وَقْتٍ وَأَرْسَلَهُ فِي وَقْتٍ. وَهَكَذَا إِذَا رَفَعَ بَعْضُهُمُ الْحَدِيثَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوَقَفَهُ بَعْضُهُمْ عَلَى الصَّحَابِيِّ، أَوْ رَفَعَهُ وَاحِدٌ فِي وَقْتٍ وَوَقَفَهُ هُوَ أَيْضًا فِي وَقْتٍ آخَرَ، فَالْحُكْمُ عَلَى الْأَصَحِّ فِي كُلِّ ذَلِكَ لِمَا زَادَهُ الثِّقَةُ مِنَ الْوَصْلِ وَالرَّفْعِ؛ لِأَنَّهُ مُثْبِتٌ وَغَيْرُهُ سَاكِتٌ، وَلَوْ كَانَ نَافِيًا فَالْمُثْبِتُ مُقَدَّمٌ عَلَيْهِ؛ لِأَنَّهُ عَلِمَ مَا خَفِيَ عَلَيْهِ. وَلِهَذَا الْفَصْلِ تَعَلُقٌ بِفَصْلِ زِيَادَةِ الثِّقَةِ فِي الْحَدِيثِ، وَسَيَأْتِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى، وَهُوَ أَعْلَمُ.
"Termasuk dalam kategori ini juga adalah kasus ketika orang yang mewashalkannya adalah orang yang sama yang me-mursal-kannya - ia mewashalkannya pada satu waktu dan me-mursal-kannya pada waktu yang lain. Begitu pula jika sebagian perawi me-marfu'-kan hadits kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sementara sebagian yang lain me-mauquf-kannya pada sahabat, atau satu orang perawi me-marfu'-kannya pada satu waktu dan me-mauquf-kannya pula pada waktu yang lain - maka menurut pendapat yang paling shahih, hukum dalam semua kasus itu diberikan kepada tambahan yang dibawa perawi tsiqah, baik berupa penyambungan (washl) maupun pemarfu'an (raf'), karena ia adalah pihak yang menetapkan (mutsbit) sementara yang lain hanya diam. Sekalipun yang lain itu justru menafikannya, tetap saja pihak yang menetapkan lebih didahulukan, karena ia mengetahui apa yang tidak diketahui pihak lain. Pembahasan ini berkaitan dengan pembahasan tentang tambahan perawi tsiqah dalam hadits, yang akan disebutkan nanti insya Allah Ta'ala. Wallahu a'lam."7

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 59.

  2. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 59-61.

  3. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 61-62.

  4. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 62-64.

  5. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 64-67.

  6. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 67-70.

  7. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 70-72.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email