Hadits Tentang Ramadhan: Bulan Al-Qur'an dan Lailatul Qadar

Ramadhan sering dikenal lewat satu identitasnya saja: bulan puasa. Padahal kalau ditelusuri dalilnya, kewajiban menahan lapar dan haus itu hanyalah satu dari beberapa keistimewaan yang melekat pada bulan ini, bukan satu-satunya. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an, bulan yang menyimpan satu malam bernilai lebih baik dari seribu bulan, dan bulan yang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sendiri isi dengan kesungguhan ibadah yang berbeda dari bulan-bulan lain. Artikel ini sengaja tidak membahas hukum puasanya. Itu sudah dibahas tersendiri di Hadits Tentang Puasa: Keutamaan, Ampunan Dosa, dan Adab yang Menyertainya. Fokus di sini adalah bulan itu sendiri: kenapa ia disebut bulan Al-Qur'an, apa itu Lailatul Qadar, dan bagaimana Nabi ﷺ memperlakukan sepuluh hari terakhirnya secara berbeda dari hari-hari biasa.

Pertama: Ramadhan, Bulan Diturunkannya Al-Qur'an

Identitas paling mendasar Ramadhan justru bukan soal puasa, melainkan soal wahyu. Allah Ta'ala menyebutnya secara eksplisit di Surat Al-Baqarah:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ
"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil)." (QS. Al-Baqarah: 185)1

Ayat ini memang juga menjadi rujukan utama kewajiban puasa. Kelanjutan ayatnya berbicara soal siapa yang wajib berpuasa dan keringanan bagi yang sakit atau musafir, dan pembahasan itu sudah dijelaskan panjang lebar di artikel yang disebutkan di atas. Yang ditekankan di sini adalah klausa pembukanya, unzila fihil-Qur'an, yang artinya diturunkan di dalamnya Al-Qur'an. Ramadhan bukan bulan yang kebetulan dipilih untuk berpuasa, ia dipilih karena sudah lebih dulu istimewa, sebagai bulan ketika wahyu pertama kali turun kepada Nabi Muhammad ﷺ. Karena itulah tradisi tadarus (membaca dan mengkaji Al-Qur'an secara intensif) selama Ramadhan bukan sekadar kebiasaan yang tumbuh belakangan, melainkan cara umat Islam menghubungkan diri kembali dengan peristiwa yang membuat bulan ini bernama sama dengan identitasnya sendiri. Tepatnya kapan dalam Ramadhan Al-Qur'an mulai turun, Al-Qur'an sendiri menjawabnya di surat berikutnya.

Kedua: Lailatul Qadar, Lebih Baik dari Seribu Bulan

Surat Al-Qadr, surat pendek yang seluruhnya berbicara tentang satu malam, menjelaskan lebih jauh malam yang dimaksud:

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ەۚ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۗ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍ ەۗ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْ ەۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍ ەۛ سَلٰمٌ ەۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar." (QS. Al-Qadr: 1-5)2

"Lailatul Qadar" secara harfiah berarti malam kemuliaan atau malam penetapan (dari kata qadar, yang juga membawa makna ketetapan/takdir) adalah salah satu malam di bulan Ramadhan yang nilainya, kata ayat ini, lebih baik daripada seribu bulan. Seribu bulan itu sekitar 83 tahun, lebih panjang dari usia hidup kebanyakan orang. Artinya, ibadah yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh pada satu malam ini bisa menyamai atau melampaui pahala ibadah yang dikerjakan terus-menerus sepanjang usia yang sangat panjang, sebuah kemurahan yang oleh sebagian ulama tafsir dijelaskan sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ yang usianya secara umum jauh lebih pendek dibanding umat-umat terdahulu. Ayat kedua surat ini, "tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu?", sengaja disusun sebagai pertanyaan retoris untuk menegaskan bahwa kemuliaan malam ini sedemikian besar sampai sulit tergambarkan sepenuhnya lewat kata-kata biasa. Pertanyaannya kemudian: malam yang mana persisnya, dan bagaimana cara mendapatkannya? Dua hadits berikut menjawabnya.

Ketiga: Perintah Mencarinya di Malam Ganjil Sepuluh Hari Terakhir

Al-Qur'an dan hadits tidak menyebutkan secara eksplisit tanggal pasti Lailatul Qadar. Ini bukan kelalaian, melainkan hikmah tersendiri (agar umat bersungguh-sungguh beribadah sepanjang malam-malam yang berpotensi, bukan hanya di satu malam saja). Yang diberikan adalah rentang waktu dan pola pencariannya, sebagaimana disampaikan Nabi ﷺ dalam riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
"Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan." (HR. Bukhari no. 2017, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, Kitab Keutamaan Lailatul Qadar)3

Kata kerja tahar-raw (dari akar taharra, carilah dengan sungguh-sungguh) menunjukkan bahwa Lailatul Qadar bukan sesuatu yang ditunggu pasif, melainkan diusahakan secara aktif. "Malam ganjil" yang dimaksud merujuk pada malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 (dihitung dari terbenamnya matahari, karena hari dalam kalender Hijriah dimulai sejak Maghrib), meskipun sebagian riwayat lain yang juga direkam Imam Bukhari dari jalur yang sama menyebutkan perintah mencarinya di sepuluh hari terakhir secara umum tanpa membatasi pada malam ganjil saja, menunjukkan bahwa penekanan pada malam ganjil adalah anjuran yang lebih spesifik, bukan pembatasan yang mutlak.4 Sejumlah ulama, merujuk pada berbagai riwayat lain yang menyebut tanda-tanda malam itu, condong menguatkan malam ke-27 sebagai yang paling mungkin, tapi ini pendapat yang diperselisihkan, bukan kesepakatan bulat, sehingga anjuran yang paling aman tetap bersungguh-sungguh di semua malam ganjil sepuluh hari terakhir, bukan hanya menyasar satu malam tertentu.

Keempat: Kesungguhan Nabi ﷺ di Sepuluh Hari Terakhir

Perintah "mencari" itu bukan sekadar teori. Aisyah radhiyallahu 'anha sendiri yang menceritakan bagaimana bentuk konkretnya dalam praktik Nabi ﷺ:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila memasuki sepuluh hari terakhir (Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya." (HR. Bukhari no. 2024, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, Kitab Keutamaan Lailatul Qadar)5

Tiga frasa dalam hadits pendek ini menggambarkan perubahan ritme ibadah yang nyata. "Mengencangkan sarungnya" (syadda mi'zarahu) oleh para ulama syarah dijelaskan sebagai ungkapan kiasan untuk kesungguhan dan semangat yang meningkat dalam beribadah. Sebagian juga memahaminya secara lebih spesifik sebagai isyarat menjauhi hubungan suami-istri agar waktu dan tenaga sepenuhnya tercurah untuk ibadah malam. "Menghidupkan malamnya" (ahya lailahu) berarti mengisi waktu malam dengan shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur'an, bukan tidur seperti malam-malam biasa. "Membangunkan keluarganya" (ayqaza ahlahu) menunjukkan bahwa kesungguhan ini tidak Nabi ﷺ nikmati sendirian. Istri dan keluarganya juga diajak serta, sebuah teladan bahwa momentum ibadah di penghujung Ramadhan sepatutnya menjadi usaha bersama seisi rumah, bukan urusan pribadi semata. Praktik inilah yang menjadi dasar tradisi i'tikaf (berdiam diri di masjid untuk beribadah) yang banyak dijalankan umat Islam pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga sekarang.

Kelima: Qiyam Ramadhan, Pahala bagi yang Menegakkan Malamnya

Selain soal Lailatul Qadar secara khusus, Ramadhan juga punya keutamaan tersendiri lewat ibadah malam yang dikerjakan berjamaah sepanjang bulan, dikenal luas sekarang dengan nama tarawih. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa menegakkan (shalat malam) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari no. 37, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Kitab Iman, bab "Mendirikan shalat sunnah pada malam-malam Ramadhan adalah bagian dari iman")6

Kata kunci hadits ini adalah qama (menegakkan/mendirikan), bukan shama (berpuasa). Dua akar kata ini mirip bunyinya dalam bahasa Arab tapi berbeda makna, dan keduanya memang sering disandingkan dalam hadits-hadits tentang Ramadhan karena sama-sama memakai syarat "iman dan ihtisab" yang identik. Hadits ini secara spesifik berbicara tentang shalat malam (qiyam), yang pada masa Nabi ﷺ dan sahabat awalnya dikerjakan sendiri-sendiri atau dalam kelompok kecil, baru pada masa Khalifah Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu dirapikan menjadi shalat berjamaah dengan satu imam setiap malam, praktik yang kemudian dikenal luas dengan nama tarawih (dari kata tarwihah, jeda istirahat, karena jamaah beristirahat sejenak di sela-sela rakaatnya). Sama seperti pada hadits tentang puasa, syarat imanan wahtisaban di sini menegaskan bahwa pahala pengampunan itu digantungkan pada kualitas niat: dikerjakan karena benar-benar meyakini ini ibadah dari Allah dan mengharap balasan hanya dari-Nya, bukan sekadar ikut-ikutan jamaah di masjid.

Penutup

Lima dalil di atas menunjukkan bahwa keistimewaan Ramadhan jauh lebih luas dari sekadar kewajiban menahan lapar dan haus: ia adalah bulan turunnya Al-Qur'an, menyimpan satu malam yang nilainya melampaui seribu bulan, punya rentang waktu dan pola pencarian yang jelas untuk menemukan malam itu, dicontohkan langsung oleh Nabi ﷺ lewat kesungguhan ibadah di sepuluh hari terakhirnya, dan menawarkan pengampunan dosa bagi siapa saja yang menegakkan malam-malamnya dengan qiyam. Untuk memahami hukum puasanya sendiri secara lebih menyeluruh (kapan wajib, siapa yang mendapat keringanan, dan adab-adab yang menyertainya), baca Hadits Tentang Puasa: Keutamaan, Ampunan Dosa, dan Adab yang Menyertainya. Karena bulan ini juga bulan Al-Qur'an, mendalami cara membaca dan memahaminya secara bersanad adalah kelanjutan yang wajar. Lihat Tafsir Al-Qur'an Online Bersanad. Untuk menekuni ilmu fiqih Ramadhan dan ibadah lainnya secara berjenjang bersama pengajar bersanad, lihat jalur kelas Fiqh di Ngajisanad.

Catatan & Referensi

  1. QS. Al-Baqarah: 185. Teks Arab dan terjemahan dicek terhadap sumber sekunder berbahasa Indonesia, konsisten dengan mushaf standar Kementerian Agama RI. Kutipan di artikel ini dipangkas pada klausa pembuka ayat (turunnya Al-Qur'an) untuk fokus tema bulan itu sendiri. Kelanjutan ayat yang membahas kewajiban dan keringanan puasa dibahas tersendiri di Hadits Tentang Puasa.

  2. QS. Al-Qadr: 1-5. Teks Arab dan terjemahan dicek terhadap sumber sekunder berbahasa Indonesia, konsisten dengan mushaf standar Kementerian Agama RI.

  3. HR. Bukhari no. 2017, Kitab Keutamaan Lailatul Qadar, bab "Mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir", dari Aisyah radhiyallahu 'anha - teks Arab dan terjemahan dikutip dari data hadits primer Ngajisanad sendiri (hadith-api/books/bukhari.json). Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.

  4. HR. Bukhari no. 2020, riwayat lain dari jalur Aisyah radhiyallahu 'anha (Kitab Keutamaan Lailatul Qadar, bab yang sama) yang menyebutkan Nabi ﷺ beri'tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan dan bersabda "carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan" tanpa membatasi pada malam ganjil - dicek langsung dari data hadits primer Ngajisanad, tidak dikutip literal dalam badan artikel karena redaksinya beririsan dengan hadits no. 2017 di atas, hanya diringkas sebagai riwayat pembanding. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.

  5. HR. Bukhari no. 2024, Kitab Keutamaan Lailatul Qadar, bab "Amalan pada sepuluh hari terakhir Ramadhan", dari Aisyah radhiyallahu 'anha - teks Arab dan terjemahan dari data hadits primer Ngajisanad sendiri. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.

  6. HR. Bukhari no. 37, Kitab Iman, bab "Mendirikan shalat sunnah pada malam-malam Ramadhan adalah bagian dari iman", dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu - teks Arab dan terjemahan dari data hadits primer Ngajisanad sendiri. Hadits ini berbeda nomor dan bab dari hadits tentang keutamaan puasa Ramadhan (HR. Bukhari no. 38) yang sudah dibahas di Hadits Tentang Puasa - hadits ini secara spesifik berbicara tentang qiyam (shalat malam/tarawih), bukan shaum (puasa), meski keduanya memakai redaksi "imanan wahtisaban" yang serupa. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email