Fathul Mughits Bab 16: Al-Afrad

Kubah masjid, ilustrasi untuk artikel "Fathul Mughits Bab 16: Al-Afrad"

Bab ini menutup kelompok pembahasan riwayat yang menyelisihi dan berdiri sendiri, dengan kasus terakhir: hadits yang sama sekali tidak punya penguat.

Al-Afrad

Alfiyah al-'Iraqi membagi al-fard jadi dua jenis dalam bait berikut:

الْفَرْدُ قِسْمَانِ فَفَرْدٌ مُطْلَقَا ... وَحُكْمُهُ عِنْدَ الشُّذُوذِ سَبَقَا
وَالْفَرْدُ بِالنِّسْبَةِ مَا قَيَّدْتَهُ ... بِثِقَةٍ أَوْ بَلَدٍ ذَكَرْتَه
ُ
"Al-fard ada dua jenis: fard muthlaq (mutlak) - hukumnya sudah lewat dibahas pada bab syudzudz. Adapun fard bin-nisbah (relatif) adalah apa yang kamu batasi dengan sebutan rawi tsiqah tertentu, atau kota tertentu yang kamu sebutkan." (Alfiyah al-'Iraqi, bait 186-187, dinukil dan disyarah As-Sakhawi dalam Fathul Mughits, jilid 1 hlm. 268)

Al-afrad (bentuk jamak dari fard) adalah hadits yang hanya diriwayatkan oleh satu rawi, tanpa ada mutaba'ah maupun syawahid yang mendukungnya.1 Ulama membedakan dua jenis:

  • Al-fardul muthlaq (afrad mutlak) - hanya satu rawi di seluruh dunia yang meriwayatkan hadits itu, sejak level sahabat.
  • Al-fardun nisbi (afrad relatif) - hanya satu rawi dari kalangan tertentu (misalnya hanya satu murid dari seorang guru tertentu) yang meriwayatkannya, meski secara keseluruhan matan itu diriwayatkan sahabat lain juga lewat jalur berbeda.

Status afrad sendiri bukan otomatis berarti lemah - selama rawi tunggal itu tsiqah dan memenuhi seluruh syarat maqbul, riwayatnya tetap sah diterima. Tapi ketiadaan penguat membuatnya lebih rentan dipertanyakan dibanding riwayat yang punya mutaba'ah atau syawahid, dan karena itu proses al-i'tibar tetap penting dilakukan meski hasil akhirnya menunjukkan sebuah hadits memang murni fard.

Dengan bab ini, seluruh kelompok pembahasan riwayat yang menyelisihi atau berdiri sendiri sudah lengkap dibahas (asy-syadz, al-munkar, al-i'tibar, al-muttaba'at, asy-syawahid, ziyadatuts-tsiqat, dan al-afrad). Enam bab berikutnya menutup jilid pertama Fathul Mughits dengan enam cacat hadits terakhir, dimulai dari al-mu'allal - cacat tersembunyi yang paling sulit dideteksi di seluruh ilmu ini.

Catatan & Referensi

  1. Definisi al-afrad beserta pembagiannya jadi fard muthlaq dan fard nisbi dirumuskan Ibnu Shalah dalam Muqaddimah-nya dan dijelaskan As-Sakhawi dalam Fathul Mughits.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email