Coba bayangkan dua orang yang sedang belajar hadits. Yang satu duduk bersila di depan gurunya, di sebuah majelis kecil, mendengarkan langsung, sesekali ditegur kalau salah melafalkan. Yang satu lagi duduk di kamarnya, membuka video kelas daring, headset terpasang, kadang sambil rebahan. Bentuknya jauh berbeda. Tapi pertanyaannya, apakah keduanya benar-benar sedang melakukan hal yang berbeda? Jawabannya, sebenarnya tidak. Yang berbeda cuma wadahnya, forum tempat ilmu itu disampaikan. Yang mereka cari, seharusnya, sama saja.
Empat Wadah, Tiga Pertanyaan yang Tak Pernah Berubah
Kalau ditarik mundur sejarahnya, medium belajar agama memang sudah berubah beberapa kali. Dulu ilmu berpindah lewat majelis lisan langsung — dalam istilah ulama disebut talaqqi, murid duduk berhadapan dengan guru, membaca atau mendengarkan, lalu langsung dikoreksi kalau salah. Lalu muncul manuskrip tulisan tangan, ilmu mulai bisa disalin dan dibawa ke tempat lain. Setelah itu kitab cetak, ilmu jadi bisa digandakan dalam jumlah besar dan tersebar lebih cepat. Sekarang, kita masuk era video dan kelas daring. Empat medium yang sangat berbeda satu sama lain. Tapi ada satu hal yang tidak pernah berubah dari masa ke masa: siapa gurunya, bagaimana jalur keilmuannya (dalam ilmu hadits disebut isnad atau sanad), dan apakah muridnya bisa dikoreksi langsung ketika salah. Tiga hal itu selalu jadi pertanyaan wajib, apa pun mediumnya.
Yang menarik, transisi dari satu wadah ke wadah berikutnya nyaris tidak pernah menghapus kebiasaan lama begitu saja. Ketika manuskrip mulai menyebar, talaqqi tetap jadi jalur utama untuk memastikan sebuah naskah benar-benar berasal dari pengarangnya, bukan cuma salinan yang keliru atau disisipi orang lain. Inilah salah satu alasan kenapa ulama-ulama terdahulu sampai rela menempuh perjalanan jauh, kadang berbulan-bulan, hanya demi mendengar satu hadits langsung dari mulut seorang guru — tradisi yang dikenal sebagai rihlah fi thalabil hadits. Bahkan setelah kitab cetak membuat naskah bisa digandakan dalam jumlah besar, kebiasaan membacakan isi kitab di hadapan guru dan mendapat izin mengajarkannya kembali — yang dikenal sebagai ijazah — tetap dipegang erat. Cetakan mempercepat penyebaran teks, tapi tidak menggantikan otoritas guru yang berdiri di baliknya. Kalau kamu ingin membaca lebih jauh soal bagaimana sanad bertahan sebelum ada mesin cetak, atau bagaimana konsep talaqqi ini bekerja secara lebih rinci, keduanya sudah pernah dibahas tersendiri di Ngajisanad.
Wadah Boleh Ganti, Tapi Tuntutannya Tidak
Ini yang penting untuk kamu pegang kalau sekarang belajar agama lewat layar. Belajar daring itu, pada dasarnya, cuma mengganti wadah penyampaian, dari ruang fisik ke layar. Bukan mengganti prinsip dasar bagaimana ilmu itu semestinya diverifikasi keasliannya. Jadi kalau ada yang bilang "kan sekarang zamannya online, tidak perlu lagi ribet soal sanad dan jalur guru", itu keliru arah. Justru karena mediumnya berubah drastis, pertanyaan soal siapa gurumu jadi lebih penting untuk ditanyakan, bukan lebih boleh diabaikan.
Kenapa begitu? Karena ilmu agama itu bukan sekadar informasi yang bisa ditelan sendirian dari mana saja. Ada tuntunan yang sangat jelas soal ini, dan sudah ada sejak generasi paling awal umat ini.
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
"Sampaikanlah dariku walau satu ayat." (HR. Al-Bukhari, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma)1
Hadits ini sering dikutip untuk mendorong orang menyampaikan ilmu, dan memang benar begitu. Tapi perhatikan, hadits ini berbicara tentang menyampaikan dari sumber yang jelas, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, lewat jalur yang bisa dipertanggungjawabkan. Bukan menyampaikan apa saja yang kebetulan lewat di linimasa atau yang terdengar meyakinkan di sebuah video. Ada rantai penyampaian di baliknya. Ada tanggung jawab siapa yang bicara dan dari siapa dia belajar.
"Perhatikan dari Siapa Kamu Mengambil Ilmu": Warisan Kehati-hatian Ulama Salaf
Ini juga yang membuat generasi ulama terdahulu, jauh sebelum ada internet, sudah sangat ketat soal dari siapa mereka mengambil ilmu. Muhammad bin Sirin, salah satu tabiin yang dikenal luas kehati-hatiannya, punya satu ucapan yang sampai sekarang terus diulang-ulang oleh orang yang serius menjaga agamanya.
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian." (Muhammad bin Sirin rahimahullah, sebagaimana dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim)
Coba resapi ucapan ini sebentar. Ibnu Sirin tidak bilang "perhatikan apa isinya". Dia bilang, perhatikan dari siapa kamu mengambilnya. Itu artinya, isi ilmu saja tidak cukup dijadikan pegangan. Sumbernya, orangnya, jalurnya, itu yang jadi penentu apakah sesuatu itu betul-betul agama atau cuma kelihatan seperti agama.
Dalam nukilan yang sama, Ibnu Sirin juga menjelaskan kenapa kebiasaan memeriksa sanad ini sampai perlu ditegakkan seketat itu. Menurutnya, generasi paling awal umat ini dulu tidak pernah menanyakan sanad ketika seseorang menyampaikan sebuah riwayat — kejujuran waktu itu masih dianggap wajar dan jarang dipertanyakan. Tapi begitu fitnah, perpecahan dan penyimpangan mulai muncul di tengah umat, cara memeriksa riwayat pun berubah total.
لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الْإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ
"Dahulu mereka tidak pernah bertanya tentang sanad. Namun setelah terjadi fitnah, mereka berkata, 'Sebutkan kepada kami nama-nama guru kalian.' Maka diperhatikanlah, jika mereka termasuk Ahlus Sunnah, riwayatnya diambil; jika mereka termasuk Ahlul Bid'ah, riwayatnya tidak diambil." (Muhammad bin Sirin rahimahullah, sebagaimana dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim)2
Atsar ini penting karena menunjukkan bahwa kehati-hatian soal sanad bukan tradisi yang baru muncul belakangan, dan bukan pula sikap berlebihan segelintir orang. Ini respons langsung ulama generasi awal ketika mereka melihat ilmu agama mulai rawan disalahgunakan. Dari kebutuhan itulah kemudian lahir disiplin ilmu isnad secara lebih formal — cara membuktikan bahwa sebuah riwayat memang berasal dari orang yang disebut, lewat jalur guru-ke-murid yang bisa dilacak satu demi satu. Konsep ijazah (izin tertulis untuk mengajarkan sebuah ilmu atau kitab) dan sama' (mendengar langsung dari guru) tumbuh dari kebutuhan yang sama: memastikan siapa sebenarnya yang berdiri di antara kamu dan sumber ilmu itu, bukan sekadar percaya pada tampilan atau klaim di permukaan. Perbedaan detail antara dua jenis bukti sanad ini sudah pernah dibahas tersendiri, termasuk bagaimana keduanya sama-sama berfungsi sebagai bukti sanad yang bisa ditelusuri, bukan cuma diklaim. Bagaimana rantai ini bekerja secara teknis, dari satu perawi ke perawi berikutnya, juga sudah dijelaskan lebih rinci dalam pembahasan cara kerja isnad itu sendiri.
Kenapa Ini Justru Lebih Genting di Zaman Layar
Sekarang bandingkan dengan situasi belajar lewat layar hari ini. Konten agama ada di mana-mana. Video pendek, potongan ceramah, tulisan yang dibagikan ulang tanpa jelas siapa penulis aslinya. Semua kelihatan rapi, semua kelihatan yakin. Tapi tidak selalu jelas siapa orang di balik konten itu, dari siapa dia belajar, dan apakah ada orang lain yang pernah mengoreksinya kalau dia salah.
Di majelis fisik, koreksi itu terjadi secara alami. Salah membaca, guru langsung menegur saat itu juga. Ada interaksi dua arah yang membuat ilmu itu terus diperiksa. Ketika belajar berpindah ke layar, interaksi semacam itu bisa hilang kalau formatnya cuma menonton video sendirian, tanpa ada guru yang benar-benar bisa ditanya dan yang benar-benar mengenal jalur keilmuannya sendiri. Padahal tuntutan untuk punya guru yang jelas dan bisa dikoreksi itu tidak pernah dicabut hanya karena mediumnya berubah jadi digital.
Ada satu risiko lama dalam ilmu hadits yang justru menemukan bentuk barunya di era digital ini: tadlis, yaitu menyamarkan atau menyembunyikan jalur pengambilan ilmu sehingga kelihatan lebih meyakinkan atau lebih dekat dari yang sebenarnya. Di masa lalu, tadlis biasanya berbentuk seorang perawi yang menyamarkan gurunya sendiri. Di layar, bentuknya bisa lebih halus: potongan ceramah yang beredar tanpa nama pengajarnya, klaim "bersanad" tanpa ada jalur yang bisa ditelusuri, atau gaya bicara yang meniru orang berilmu tanpa benar-benar punya jalur keilmuan yang jelas di baliknya. Algoritma media sosial pun tidak dirancang untuk menyaring soal ini — yang dinaikkan adalah apa yang ramai ditonton, bukan apa yang jalur sanadnya paling jelas. Kalau kamu ingin memahami lebih dalam soal kenapa penyamaran jalur guru ini dianggap masalah serius dalam ilmu hadits, bukan sekadar soal etika biasa, ada pembahasan khusus soal tadlis dalam ilmu hadits yang bisa kamu baca.
Jadi pertanyaan yang perlu kamu bawa setiap kali memilih tempat belajar agama, baik dulu di majelis fisik maupun sekarang di kelas daring, sebenarnya sama saja. Siapa gurunya. Dari siapa dia belajar. Apakah jalur itu bisa ditelusuri, bukan cuma diklaim. Dan apakah ada ruang untuk kamu dikoreksi kalau salah, bukan cuma menyerap satu arah.
Menempuh Jalan Ilmu di Zaman Digital: yang Perlu Kamu Cek
Islam sendiri memberi penghargaan besar bagi siapa saja yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, apa pun bentuk jalan itu.
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim, no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)3
Tapi kata "jalan" di sini bukan berarti jalan apa saja tanpa syarat, sepanjang kelihatan meyakinkan. Sepanjang sejarahnya, jalan menuntut ilmu selalu punya rambu: guru yang jelas identitasnya, jalur keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan, dan kesediaan untuk dikoreksi. Rambu itu tidak berubah ketika jalan itu sekarang berbentuk video kelas daring atau grup belajar di ponsel.
Beberapa hal sederhana bisa kamu jadikan pegangan sebelum memutuskan belajar dari sebuah kelas daring atau kanal ceramah. Cek apakah pengajarnya mencantumkan sisi riwayah (jalur sanad, siapa gurunya) dan dirayah (pemahaman keilmuan) secara terbuka, bukan cuma gelar atau jumlah pengikut — perbedaan dua cara belajar ini dibahas lebih lengkap dalam artikel Riwayah vs Dirayah. Cek apakah jalur itu bisa ditelusuri sampai ke gurunya, bukan cuma klaim "bersanad" tanpa nama yang bisa diverifikasi. Dan cek apakah ada ruang tanya jawab atau koreksi langsung, bukan cuma konten satu arah yang diputar berulang. Daftar yang lebih lengkap soal ini, termasuk hal-hal teknis lain yang jarang dipikirkan orang, bisa dibaca di panduan cara memilih guru ngaji online untuk dewasa.
Ini juga alasan kenapa Ngajisanad memilih untuk terus menampilkan sanad setiap pengajarnya secara terbuka, meskipun formatnya sudah pindah ke layar. Bukan supaya kelihatan formal, tapi karena itu memang bagian yang tidak boleh hilang dari cara ilmu ini semestinya diturunkan, sejak dulu sampai sekarang. Setiap klaim ijazah tertulis atau sama' yang tercantum pada profil pengajar, misalnya pada halaman profil salah satu pengajar kami, sengaja dibuat bisa diverifikasi satu per satu, bukan sekadar ditulis sebagai hiasan. Kalau kamu ingin melihat langsung bagaimana prinsip ini diterapkan dalam bentuk kelas daring, kamu bisa mulai dari kelas Sama' Shahih al-Bukhari: Muqaddimah, lalu cek sendiri jalur keilmuan pengajarnya sebelum memutuskan untuk belajar.
Catatan & Referensi
HR. Al-Bukhari, no. 3461, dalam Kitab Ahadits al-Anbiya' (bab hadits Bani Isra'il), dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhuma.
↩Kedua perkataan Muhammad bin Sirin ini dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah (bagian metodologis pembuka) Shahih Muslim, sebagai penjelasan tentang kapan dan kenapa umat mulai memeriksa sanad secara ketat — yakni sejak munculnya fitnah pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu dan perpecahan yang menyusul setelahnya. Statusnya adalah atsar atau perkataan seorang tabiin, bukan hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam.
↩HR. Muslim, no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — bagian dari hadits panjang yang juga membahas keutamaan majelis yang membaca dan mempelajari ilmu agama secara bersama-sama.
↩Konsep ijazah dan sama' sebagai dua bentuk utama bukti pengambilan ilmu dalam tradisi periwayatan hadits dibahas panjang dalam kitab-kitab musthalah hadits klasik, salah satunya Al-Kifayah fi 'Ilmi ar-Riwayah karya Al-Khatib al-Baghdadi, yang secara khusus menghimpun kaidah-kaidah metode penerimaan dan penyampaian riwayat.
↩